Telkom Indonesia (TLKM) akhirnya menunjukkan tanda-tanda turnaround yang cukup solid pada kuartal kedua tahun ini. Setelah sempat tertekan, laba bersih konsolidasian perseroan melonjak hingga 45% secara kuartalan (q-q) menjadi Rp6,3 triliun. Angka ini membawa laba bersih kumulatif paruh pertama (1H26) tumbuh tipis 1% secara tahunan (y-y) menjadi Rp10,6 triliun, atau setara dengan 59% dari proyeksi setahun penuh.
Pemulihan ini utamanya ditopang oleh perbaikan pasar seluler yang mendorong pendapatan Telkomsel tumbuh 2% q-q (+6% y-y), meskipun segmen fixed broadband melalui IndiHome masih cenderung stagnan. Selain itu, lini B2B ICT mencatat lonjakan pendapatan hingga 27% q-q, walaupun kontribusi segmen ini diperkirakan masih akan fluktuatif di paruh kedua. Dari sisi profitabilitas, EBITDA margin merangkak naik ke level 50,4% di 2Q26, mendekati target manajemen di atas 50%.
Namun, di balik angka pertumbuhan yang solid ini, ada beberapa catatan penting pada neraca keuangan TLKM. Masalah piutang usaha (accounts receivable) masih menjadi ganjalan. Total outstanding receivables relatif stagnan di angka Rp19,3 triliun. Yang mengkhawatirkan, piutang yang telah jatuh tempo lebih dari tiga bulan (overdue) masih bertengger di level tinggi, yakni mencapai 43% dari total piutang. Meskipun coverage ratio berada di kisaran 39%, kualitas aset ini tetap memerlukan pengawasan ketat.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga tahun depan, Telkomsel dihadapkan pada keharusan menjaga kedisiplinan harga (pricing discipline). Kenaikan tarif secara bertahap mutlak diperlukan guna mengompensasi lonjakan biaya spektrum menyusul akuisisi frekuensi 700MHz dan 2.600MHz baru-baru ini. Tantangan terbesarnya adalah menaikkan harga pada basis pelanggan dengan ARPU di bawah Rp50.000. Jika TLKM terlalu bertumpu pada segmen ARPU tinggi (di atas Rp50.000), risiko migrasi pengguna ke paket yang lebih murah akan semakin nyata, terutama di tengah ketatnya persaingan layanan fixed wireless broadband.
Secara valuasi, saham TLKM saat ini diperdagangkan pada EV/EBITDA 4,3x untuk estimasi tahun ini. Dengan asumsi risk-free rate 6% dan pertumbuhan jangka panjang 1,5%, target harga wajar berada di level Rp3.650 per lembar saham. Likuiditas neraca yang sehat dengan rasio net debt to EBITDA yang rendah juga memberikan ruang bagi perusahaan untuk mempertahankan, atau bahkan meningkatkan, dividend payout ratio di masa mendatang.