LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Bank Indonesia Tahan Rate, Rupiah Terus Menguat

Bank Indonesia tahan suku bunga di 5,75% untuk kedua kalinya. Rupiah menguat hampir 1% bulan ini di tengah capital inflows yang pulih.


Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% — keputusan yang sudah diantisipasi pasar, dengan 34 dari 35 ekonom dalam konsensus memproyeksikan hal yang sama. Ini adalah bulan kedua berturut-turut BI tidak bergerak, meski sepanjang tahun ini bank sentral sudah menaikkan rate sebesar 100 basis poin secara kumulatif.

Yang lebih menarik dari sekadar angka rate-nya adalah konteks di balik rapat ini. Ini merupakan keputusan moneter pertama di bawah kepemimpinan Destry Damayanti sebagai Acting Governor, setelah Perry Warjiyo mundur secara mendadak pada Juli lalu. Investor memantau rapat ini dengan ekstra ketat — bukan karena khawatir soal rate, tapi karena ingin membaca sinyal soal independensi dan arah kebijakan BI ke depan.

Hasilnya cukup menenangkan pasar. Destry, yang juga merupakan satu-satunya calon resmi pimpinan BI, memberikan outlook positif terhadap rupiah dan menegaskan bahwa BI akan terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter sekaligus memperluas insentif untuk menarik foreign inflows. Transisi kepemimpinan yang terlihat mulus, ditambah meredanya sejumlah risiko eksternal, menjadi kombinasi yang mendukung sentimen positif terhadap aset Indonesia.

Di sisi mata uang, rupiah sudah menguat hampir 1% sepanjang bulan berjalan — bukan angka yang spektakuler, tapi cukup signifikan mengingat tekanan yang sempat menghantam IDR sebelumnya. Capital inflows yang mulai pulih menjadi motor utama penguatan ini, dan jika tren berlanjut, tekanan untuk menaikkan rate lebih lanjut secara otomatis berkurang.

BI juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 di rentang 4,9%–5,7%. Range yang cukup lebar ini mencerminkan ketidakpastian yang masih ada, tapi batas bawahnya pun masih di level yang relatif solid untuk ukuran emerging market saat ini.

Dari perspektif pasar modal, stabilitas rupiah dan tanda-tanda capital inflows yang kembali adalah kondisi yang konstruktif untuk aset berisiko domestik. Rate yang ditahan berarti cost of capital tidak naik lebih jauh — positif untuk sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti, perbankan, dan emiten dengan leverage tinggi. Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah penguatan rupiah ini berkelanjutan atau hanya momentum sesaat yang bergantung pada sentimen global.