LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Bank Saham Global Juli 2026: Serangan Balik Dimulai

Konflik Iran yang sempat menutup Selat Hormuz selama berbulan-bulan akhirnya mereda. Oil prices sudah turun tajam dari puncaknya di atas $110/bbl ke bawah $75/bbl — dan penurunan ini bukan sekadar cerita komoditas. Ini adalah transmission mechanism yang mengubah seluruh peta makro global: inflasi mereda, consumer mendapat napas, central bank punya ruang untuk tidak bertindak agresif, dan earnings backdrop membaik untuk ekonomi-ekonomi yang bergantung pada impor energi.

Outlook oil price direvisi turun ke $75/bbl untuk akhir 2026 dan $65/bbl untuk pertengahan 2027, dengan risiko yang sedikit condong ke downside lebih lanjut. Faktor kuncinya: produser Teluk Persia kemungkinan akan memprioritaskan volume daripada disiplin produksi setelah berbulan-bulan tekanan ekonomi, UAE memilih keluar dari OPEC — sinyal bahwa kartil makin sulit mengendalikan oversupply — dan demand dari China sendiri sudah struktural melemah. Chinese crude oil imports turun dari rata-rata 11,9 juta barel per hari menjadi hanya 7,8 juta barel per hari di bulan Mei, sebagian besar karena substitusi ke elektrifikasi. Kalau penyesuaian ini bersifat permanen, kombinasi demand yang lebih lemah dan supply yang lebih kuat bisa menekan harga lebih lama dari yang pasar antisipasi.

Di sisi makro AS, GDP Q4/Q4 direvisi naik tipis dari 1,5% ke 1,75% — bukan upgrade besar, tapi mencerminkan data yang lebih resilient dari yang dikhawatirkan. Yang menarik adalah komposisinya: capex AI terus booming, tapi consumer spending justru direvisi turun drastis dari 1,4% ke hanya 0,5% di Q1. Pertumbuhan AS saat ini bersifat imbalanced — capex-led, bukan consumption-led. Itu penting untuk diperhatikan karena durabilitas rally-nya berbeda.

Lalu ada Fed. Inilah risk yang sekarang paling banyak diperdebatkan pasar. Chair baru Kevin Warsh memberikan nada hawkish di FOMC Juni — 9 dari 18 anggota mengindikasikan kemungkinan rate hike di 2026, dan press conference-nya hampir eksklusif berbicara soal price stability. Pasar langsung merepricing: ekspektasi rate cut yang sempat diharapkan di pertengahan 2026 kini berubah menjadi ekspektasi rate hike.

Tapi ada argumen kuat bahwa pasar sudah overshoot dalam hawkishness-nya. Pertama, proyeksi core PCE Fed di 3,3% untuk 2026 belum sepenuhnya mencerminkan penurunan tajam harga energi yang baru terjadi. Kedua, market-based inflation expectations sudah berada di bawah level pre-conflict. Ketiga, softening di equity prices sendiri akan mengurangi urgensi Fed untuk tightening lebih lanjut. Base case tetap: Fed on hold, bukan hiking — tapi margin for error menyempit.

Implikasinya untuk fixed income: short-duration credit tetap menarik. High-grade 3-year US credit menawarkan sekitar 4,7%, atau roughly 110 basis points di atas cash. Itu adalah carry yang kompensasinya cukup untuk menanggung risiko hiking yang masih ada. Sementara itu, duration panjang mulai punya nilai sebagai hedge — bukan karena yield akan turun segera, tapi karena kalau Fed melakukan policy mistake dengan tightening terlalu agresif, duration akan jadi diversifier yang berguna.

Yang paling menarik dari perspektif equity: financials. Sektor ini underperformed tajam di awal 2026 karena kekhawatiran soal private credit exposure dan ketidakpastian geopolitik. Tapi sejak akhir Mei, bank-bank besar outperformed S&P 500 lebih dari 1.200 basis points. Dan ini bukan sekadar sentiment bounce — ada fundamental yang mendukung:

  • Loan growth reaccelerating: Pinjaman naik selama 18 minggu berturut-turut ke level rekor. Year-over-year loan growth sudah mencapai 6,7%, tercepat dalam beberapa tahun. C&I lending memimpin, sinyal corporate borrowing yang serius.
  • Credit conditions stabilizing: Delinquencies dan charge-offs mulai menurun secara sequential. Net charge-offs di semua kategori masih di bawah rata-rata jangka panjang per Q1 2026. Credit normalization tampaknya sudah berjalan tanpa berubah menjadi downturn yang lebih serius.
  • Capital markets reopening: Trading revenues tracking naik 8–18% YoY, investment banking revenues naik 10–20%. IPO issuance diproyeksikan melampaui $200 miliar di 2026, sementara YTD M&A announcements mendekati $900 miliar — sekitar 50% lebih tinggi year-over-year.
  • Capital return agresif: Financials menyumbang 27% dari total S&P 500 buybacks, dengan repurchases tumbuh 42% YoY. Dividend growth bank-bank besar sudah melampaui 10% year-to-date.

Valuasi bank-bank ini juga belum mahal — trading di sekitar 12,5x NTM EPS setelah multiple compression 8% YTD. Di Eropa, bank-bank bahkan lebih murah di 10,5x forward earnings, dengan dividend yield di atas 4% dan buyback yield sekitar 2%. ECB yang baru saja menaikkan suku bunga 25bps ke 2,25% justru memperkuat net interest income thesis untuk European banks.

Untuk equity secara keseluruhan, AI capex supercycle tetap menjadi driver utama. Sektor-sektor HALO — heavy assets, low obsolescence — seperti semiconductors, power infrastructure, dan industrials terus mendapat earnings revision ke atas. S&P 500 base case year-end 2026 berada di kisaran $7.700–7.900, dengan bull case di $8.900. Asia EM juga menarik dengan forward P/E hanya 12,5x dan projected earnings growth 50–55% untuk 2026 — South Korea dan Taiwan tetap jadi preferred markets di kawasan ini.

Gold adalah satu-satunya posisi yang direvisi turun secara meaningful — outlook diturunkan ke $4.500/oz. Bukan karena structural case-nya hilang, tapi karena kombinasi real yields yang firm, dollar yang menguat, dan berkurangnya debasement fears menciptakan near-term headwinds. Structural case untuk gold masih intact — reserve diversification oleh central banks global belum selesai, dan real yields mungkin sudah mendekati puncaknya. Tapi gold bisa tetap rangebound sampai ada katalis baru yang muncul.