Kalau hanya lihat headline angka, BMRI terlihat jauh lebih agresif — net profit 7M26 tumbuh 19.9% yoy, loan growth 19.5% yoy, PPOP naik 17.4%. Bandingkan dengan BBCA yang net profit-nya hanya naik 1.6% yoy di periode yang sama. Tapi di sinilah letak jebakannya: angka pertumbuhan laba tidak selalu mencerminkan kualitas balance sheet yang ada di baliknya.
Yang lebih penting justru ada di struktur funding. BMRI mencetak loan growth 19.5% yoy, sementara CASA-nya hanya tumbuh 6.6%. Untuk menutup gap itu, time deposit BMRI melonjak 61.1% yoy — dan akibatnya CASA ratio anjlok dari 78.2% ke 70.4%, sementara LDR sudah mencapai 94.8% per Juli. Ini bukan angka yang nyaman. Di sisi lain, BBCA justru berjalan dengan ritme yang berlawanan: loan growth 8.4% yoy, CASA tumbuh 10.9% yoy, time deposit malah turun 5.0%, dan LDR tetap rendah di 79.6%.
Tekanan funding di BMRI sudah mulai terlihat di P&L. Juli lalu, interest expense BMRI naik 13.1% mom, sementara interest income hanya tumbuh 5.2% mom — hasilnya NII hampir flat secara bulanan. Memang, interest income yoy mulai akselerasi ke 16.7% di Juli, yang mengindikasikan asset repricing mulai berjalan. Tapi pertanyaan besarnya untuk 2H26: apakah yield aset bisa naik lebih cepat dari cost of funding? Itu bukan pertanyaan mudah, terutama ketika time deposit masih jadi sumber pertumbuhan utama.
BBCA justru berada di posisi yang lebih menguntungkan untuk skenario ini. Dengan CASA yang organik dan stickier, excess liquidity yang masih besar, dan LDR yang jauh di bawah industri, BBCA bisa menikmati kenaikan asset yield dari repricing obligasi dan SRBI tanpa harus menanggung kenaikan funding cost yang setara. Net profit Juli BBCA sudah naik 5.0% yoy, dengan NII tumbuh 3.9% — momentum yang membaik dari angka 7M26 yang terlihat flat.
Ada konteks makro yang perlu dipahami di balik semua ini. Credit growth industri memang sedang kuat — total loan tumbuh 12.1% yoy per Juni, didorong corporate lending (+19.3% yoy), investment loans (+22.5% yoy), dan pinjaman ke SOE yang bahkan tumbuh 29.9% yoy. Tapi pertumbuhan ini sangat terkonsentrasi. MSME hanya tumbuh 1% yoy, household credit 3.5% yoy. Artinya, likuiditas yang beredar belum benar-benar merembes ke sektor riil yang lebih luas — dan ini yang membuat organic deposit growth tetap lemah meski M2 tumbuh 8.7% yoy per Juni.
SOE banks sebagian besar menutup gap ini lewat government placement dan policy liquidity dari Bank Indonesia. Interbank rate memang sudah turun dari puncaknya di 6.6% ke sekitar 6.0%, tapi masih di atas benchmark rate. Injeksi likuiditas yang berulang ini justru menegaskan adanya structural mismatch: kredit tumbuh cepat, tapi deposit organik tidak mengikuti.
Satu katalis yang perlu diperhatikan mulai September–Desember 2026 adalah repayment KopDes. BMRI, BBNI, dan BBRI masing-masing sudah menyalurkan sekitar Rp55 triliun lewat skema ini. Kalau repayment berjalan lancar, ini bisa mulai melepas tekanan likuiditas dan memberikan sinyal bahwa policy lending bisa mendaur ulang likuiditas kembali ke neraca SOE banks. Kalau repayment mulus, dikombinasikan dengan moderasi time deposit growth dan stabilisasi LDR, itu baru bisa jadi katalis yang lebih konkret untuk BMRI, BBNI, dan BBRI.
Untuk saat ini, BBCA tetap menjadi pilihan yang lebih defensif sekaligus lebih menarik secara risk-adjusted. Valuasi BBCA memang lebih premium — P/E 2026F di 12.9x versus BMRI di 6.7x — tapi premium itu terjustifikasi oleh kualitas franchise CASA yang superior, struktur funding yang jauh lebih sehat, dan posisi yang lebih siap untuk menikmati yield upcycle tanpa menanggung beban funding cost yang setara. Sementara SOE banks masih harus membuktikan bahwa pertumbuhan agresif mereka bisa dibiayai secara berkelanjutan tanpa terus bergantung pada policy liquidity.