LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BBNI 2Q26: Laba Tumbuh, Tapi NIM Makin Tertekan

BBNI membukukan net profit 2Q26 sebesar IDR5,1 triliun — turun 10% QoQ tapi naik 8% YoY. Secara kumulatif, 1H26 PATMI mencapai IDR10,8 triliun (+7% YoY), sudah menutup sekitar 51% dari estimasi full-year. Angka ini in line, bukan kejutan positif. Yang menarik justru ada di balik angkanya.

Penurunan QoQ bukan karena top-line lemah — PPOP justru naik 4% QoQ dan 17% YoY, didorong NII dari ekspansi kredit yang agresif serta non-interest income dari fee-based seperti maintenance account, FX trading, dan syndication fees. Masalahnya, credit cost naik ke 1,2% (dari 1,1% di 1Q26), terutama dari segmen mid-corporate yang memang sedang tumbuh paling kencang. BBNI menyebut PPOP yang kuat memberikan headroom untuk provisioning yang lebih konservatif — dan itu memang terlihat dari coverage ratio yang masih solid di 198%.

Loan growth-nya sendiri cukup impresif: naik 5% QoQ dan 24% YoY, atau sekitar 17% YoY kalau angka Agrinas dikeluarkan. Sektor pendorong utama meliputi transportasi, sumber daya alam, serta listrik dan gas. Pertumbuhan ini sudah jauh melampaui target manajemen yang hanya 8–10% untuk FY26. Tapi di sinilah trade-off-nya mulai terasa — pertumbuhan kredit yang terlalu cepat tanpa diimbangi deposit yang cukup bisa menekan likuiditas.

Dan itulah yang sedang terjadi. CASA ratio turun ke 65,4% dari 69,7% di akhir 2025, setelah BBNI melepas sebagian current account yang bersifat rate-sensitive dan non-transaksional. LDR naik ke 88% — masih manageable, tapi arahnya jelas: funding cost akan naik di 2H26. Manajemen sudah mengakui ini secara eksplisit dengan memangkas NIM guidance menjadi 3,3–3,5% dari sebelumnya 3,5–3,8%.

Respons manajemen terhadap tekanan ini cukup pragmatis: memperlambat loan growth agar sesuai dengan pertumbuhan deposit, mencari peluang repricing kredit ke atas, dan fokus menumbuhkan CASA. Opex growth juga diproyeksikan mereda di 2H, dengan full-year guidance di kisaran 7–8% — setelah di 1H sempat frontload variable remuneration dan capex digitalisasi.

Dari sisi asset quality, LAR membaik ke 8,1% (dari 8,6% di 1Q26 dan 11% di 2Q25), terutama karena perbaikan di segmen korporat. NPL ratio stabil di 1,9%. Yang perlu dicermati: segmen consumer mulai menunjukkan kenaikan LAR — ini bukan alarm darurat, tapi layak dimonitor lebih ketat ke depannya.

Secara valuasi, BBNI saat ini diperdagangkan di sekitar 0,8x P/B FY26F dan P/E 6,4x — level yang secara historis berada di kisaran -1SD dari mean. Dividend yield proyeksi FY26F di atas 10% memberikan cushion yang cukup nyaman bagi investor yang income-oriented. Target price berbasis GGM dengan asumsi COE 13,55%, sustainable ROE 12,75%, dan long-term growth 5,5% menghasilkan implied P/BV 0,90x.

Tantangan terbesar BBNI di 2H26 bukan soal kredit macet — tapi soal menjaga NIM tetap di level yang masih bisa mendukung profitabilitas di tengah tekanan funding cost yang hampir pasti akan meningkat. Kalau manajemen berhasil mengelola repricing dan CASA growth dengan baik, downside-nya terbatas. Tapi kalau likuiditas sistem lebih ketat dari ekspektasi — misalnya karena penarikan penuh simpanan pemerintah dari bank BUMN — maka NIM bisa tertekan lebih dalam dari guidance.