Hasil 6M26 BBNI menyajikan gambaran yang tidak hitam-putih. Di satu sisi, loan growth-nya luar biasa — tumbuh 24.4% YoY menjadi Rp968.5 triliun, jauh melampaui guidance FY26 yang hanya 8–10%. Net Interest Income ikut terangkat 14.2% YoY ke Rp19.5 triliun, dan Net Income naik 6.6% YoY ke Rp10.8 triliun. Di sisi lain, NIM terus menyusut — dari 3.8% di 6M25 ke 3.6% sekarang — dan yang lebih mengkhawatirkan, manajemen baru saja merevisi guidance NIM FY26 ke bawah lagi menjadi 3.3–3.5%, dari sebelumnya 3.5–3.8%.
Ini bukan pertama kalinya guidance NIM BBNI dikoreksi. Pola ini mengindikasikan bahwa tekanan pada loan yield dan cost of fund lebih persisten dari yang diantisipasi. Interest expense sendiri sudah tumbuh 15.9% YoY, sedikit lebih cepat dari interest income yang naik 14.9%. Time deposits melonjak 50.7% YoY — sebagian besar karena penempatan dana pemerintah yang menggeser komposisi funding ke instrumen berbiaya lebih tinggi. Akibatnya, CASA ratio turun signifikan dari 72.0% ke 65.4%.
Dari sisi asset quality, ceritanya relatif bersih. NPL Gross stabil di 1.9%, credit cost masih dijaga di kisaran 1.0–1.2%, dan CAR di 18.1% masih memberikan headroom yang cukup untuk ekspansi kredit lanjutan. ROE pun membaik ke 13.4% dari 12.8% — meski secara absolut masih di bawah peers seperti BMRI (19.6%) dan BBCA (22.6%).
Soal valuation, ini yang menarik. Dengan harga di kisaran Rp3.630, BBNI diperdagangkan di PBV 0.89x — posisi yang secara historis berada di bawah minus satu standar deviasi dari rata-rata PBV lima tahun. Dibanding peers big-four, BBNI jelas yang paling murah: PE hanya 5.8x vs BBCA di 13.3x, PBV 0.8x vs rata-rata weighted peers di 2.1x. Dividend yield-nya pun kompetitif di kisaran 6.4% untuk FY26E, dengan DPR 55%.
Yang perlu dicermati ke depan adalah dua risiko utama. Pertama, apakah loan yield bisa naik cukup cepat untuk mengimbangi kenaikan cost of fund — kalau tidak, NIM bisa turun lebih dalam dari guidance 3.3–3.5%. Kedua, pertumbuhan kredit yang agresif (24.4% YoY) di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil membawa potensi kenaikan credit cost di semester kedua, meski untuk saat ini NPL masih terkendali.
Estimasi Net Income FY26 direvisi ke Rp19.7 triliun — hanya tumbuh 1.84% YoY — mencerminkan ekspektasi earnings recovery yang sifatnya gradual, bukan akseleratif. Dengan run rate 6M26 yang sudah mencapai 53% dari proyeksi FY26, angka ini masih realistis selama tidak ada deteriorasi kualitas aset yang signifikan di 2H26. Fair value yang digunakan berbasis Dividend Discount Model menghasilkan target Rp4.675 per saham — potential upside sekitar 28% dari harga saat ini, dengan catatan bahwa pemulihan margin memang butuh waktu lebih panjang dari yang semula diharapkan.