LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BBNI: Laba Tumbuh, Tapi NIM Makin Tertekan

BBNI membukukan net profit Rp5,1 triliun di 2Q26, turun 10% secara kuartalan tapi naik 8% yoy. Secara kumulatif, laba 1H26 mencapai Rp10,8 triliun (+7% yoy) — angka yang sejalan dengan ekspektasi pasar. Tidak ada kejutan besar di sini, tapi ada beberapa tekanan struktural yang perlu dicermati lebih dalam.

Yang paling mencolok adalah tekanan pada NIM. Net interest margin turun 11 bps qoq ke level 3,4% di 2Q26, dan manajemen sudah merevisi guidance NIM bank-only untuk FY26 menjadi 3,3–3,5% dari sebelumnya 3,5–3,8%. Ini bukan sekadar adjustment teknis — ini sinyal bahwa cost of funding sedang repricing lebih cepat dari loan yield. LDR naik ke 88,0% sementara CASA ratio melorot ke 65,4%, kombinasi yang mencerminkan likuiditas sistem yang semakin tight. Dalam kondisi seperti ini, ruang untuk memperlebar spread sangat terbatas.

Di sisi lain, loan growth justru jadi penopang utama earnings. Consolidated loans tumbuh 24% yoy, didorong oleh segmen enterprise (+101% yoy) dan SOE corporate (+63% yoy). Pertumbuhan ini cukup agresif dan mendorong NII naik 14% yoy di 1H26. Manajemen mempertahankan guidance loan growth 8–10% untuk FY26, tapi asumsi internal sudah dinaikkan ke 12% — mencerminkan momentum yang lebih kuat dari perkiraan awal.

Cost of credit (CoC) meningkat ke 1,2% di 2Q26, naik dari 1,0% di kuartal sebelumnya. Manajemen membangun additional buffer untuk segmen small, consumer, dan middle — yang memang mulai menunjukkan tekanan kualitas aset. Meski demikian, NPL ratio stabil di 1,9% dan Loan at Risk (LaR) justru membaik ke 8,1% dari 10,3% setahun lalu. Wholesale portfolio yang membaik cukup mengimbangi deteriorasi di segmen ritel.

Dari sisi valuation, BBNI saat ini diperdagangkan di sekitar 1,0x PBV FY25 dan 0,9x PBV FY26F — tidak mahal secara historis. Dengan forward ROE FY26F di kisaran 12,2% dan cost of equity 12,1%, fair value PBV secara GGM berada di 1,0x, menghasilkan target price Rp4.800. Dari harga saat ini di Rp3.630, implied upside-nya sekitar 32% — cukup besar, tapi perlu dikontekstualisasikan dengan risiko yang ada.

Risiko terbesarnya ada di 2H26. Manajemen sendiri mengakui bahwa CoF repricing akan outpace loan yield repricing, artinya NIM kemungkinan masih akan tertekan. Di tengah ketidakpastian makro dan kondisi likuiditas yang belum longgar, volatilitas saham BBNI bisa tetap tinggi dalam jangka pendek — bahkan jika fundamental jangka panjangnya masih solid. Untuk investor dengan horizon 12 bulan ke atas, level valuasi saat ini menawarkan margin of safety yang cukup. Tapi untuk trading jangka pendek, risikonya tidak kecil.