LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BBNI: Murah di 0,8x PBV, Tapi Ada Catatan

BBNI diperdagangkan di 0,8x PBV dengan dividend yield 10,6% dan target harga Rp4.290. Tapi NIM tertekan dan cost of funds naik di 2H26.


Dengan harga di kisaran Rp3.560 dan valuasi 0,8x P/B, BBNI secara optik terlihat murah untuk ukuran bank BUKU IV. Target harga 12 bulan di Rp4.290 mengimplikasikan upside sekitar 20%, atau 30% jika memasukkan dividend yield — yang proyeksinya mencapai 10,6% untuk 2026. Di atas kertas, ini kombinasi yang menarik. Tapi ada beberapa hal yang perlu dipahami sebelum terlalu optimis.

Tekanan paling nyata datang dari sisi NIM. Manajemen sudah menurunkan guidance NIM ke 3,3%–3,5% dari target awal 3,5%–3,8%, setelah realisasi 1H26 tercatat 3,6%. Yang lebih krusial, cost of funds bulan Juli sudah naik sekitar 50 bps di atas level 1H26 — karena deposito terkunci di rate yang lebih tinggi untuk periode 2H26. Artinya, tekanan margin belum selesai dan kemungkinan baru akan terasa penuh di kuartal ketiga dan keempat tahun ini.

Satu variabel yang sering luput dari perhatian adalah eksposur deposito Kementerian Keuangan sebesar Rp85 triliun, atau sekitar 8% dari total simpanan. Jika dana ini ditarik sepenuhnya, LDR akan melompat dari 88% ke 96% — level yang cukup ketat dan bisa membatasi ruang ekspansi kredit. Ini bukan skenario yang pasti terjadi, tapi cukup material untuk dimonitor.

Di sisi kredit, manajemen sedang dalam proses repricing portofolio — target 80 bps pada 50% buku pinjaman, tapi baru 10% yang sudah dieksekusi. Pinjaman baru ditargetkan yield di atas 8%, minimal 100 bps lebih tinggi dari back-book yields. Pipeline korporasi masih aktif di sektor seperti pertambangan, kelapa sawit, rumah sakit, dan utilitas. Jika repricing berjalan sesuai rencana, ini bisa menjadi tailwind NIM di 2027.

Satu area yang masih belum punya kepastian waktu adalah consumer NPL. Tren masih naik dan manajemen sendiri belum bisa mengindikasikan kapan akan peak. Meski begitu, rekening payroll tumbuh dari 5 juta ke 6,2 juta akun — termasuk ekspansi ke sektor swasta — yang secara struktural memperkuat basis nasabah ritel.

Dari sisi eksposur kontraktor BUMN, angkanya relatif terbatas di 1,4% dari total pinjaman, dengan provision coverage 42% dan potensi top-up ke 62%. Sudah diklasifikasikan sebagai loans at risk, jadi dampaknya ke P&L seharusnya sudah terefleksi secara bertahap.

Proyeksi earnings menunjukkan recovery yang cukup jelas: PBT growth 10,4% di 2026 setelah kontraksi 8,2% di 2025, dengan EPS adjusted naik dari Rp534 ke Rp590. ROE diperkirakan membaik bertahap dari 11,9% ke 13,4% di 2027. PER 2026 di 6,0x dan 2027 di 5,3x — untuk bank dengan skala BBNI, ini tergolong sangat kompres.

Dividen payout ratio 30% disebut manajemen sebagai level yang sustainable jangka menengah, dengan komitmen mempertahankan absolute DPS tahun ini. Ada diskusi internal soal potensi penurunan payout ratio dalam 2–4 tahun ke depan jika ROE mencapai 15% dan loan growth 10%, tapi itu masih skenario jangka panjang.

Intinya: BBNI menawarkan valuasi yang kompres dan yield yang tinggi, tapi 2H26 adalah periode di mana tekanan cost of funds dan NIM akan paling terasa. Investor yang masuk sekarang pada dasarnya sedang bet bahwa repricing kredit dan normalisasi biaya dana akan terjadi lebih cepat dari yang dikhawatirkan pasar.