LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BCA vs Mandiri: Tren NII Juli 2026

BCA mencatat akselerasi NII di Juli 2026 dengan NIM 523 bps, sementara Mandiri menghadapi tekanan funding cost yang menekan margin. Implikasinya untuk BNI dan BRI.


Dua bank terbesar Indonesia menunjukkan arah yang berlawanan di Juli 2026 — dan divergensi ini cukup signifikan untuk dicermati lebih dalam.

BCA mencatat Net Interest Income bulanan sebesar Rp7,1 triliun, naik 6% MoM dari Rp6,7 triliun di Juni. Kenaikan ini bukan hanya dari sisi interest income yang tumbuh 5% MoM, tapi juga dari efisiensi funding — interest expense justru turun 2% MoM. Hasilnya, NIM Juli BCA mencapai 523 bps, naik 19 bps dari posisi 2Q26. Asset yields naik 20 bps ke 612 bps, sementara cost of funds hampir tidak bergerak di 89 bps — kombinasi ideal yang sulit dipertahankan di lingkungan suku bunga yang sedang bergerak.

Jika run-rate Juli ini disetahunkan, pertumbuhan NII BCA untuk FY2026 berpotensi mencapai sekitar 3% YoY — jauh lebih baik dari -0,3% di 1H26, dan sudah mendekati konsensus pasar di 4%. Loan growth juga solid di 10% YoY dengan CASA tumbuh 11% YoY, menunjukkan bahwa pertumbuhan BCA masih berkualitas dari sisi struktur pendanaan.

Cerita di Bank Mandiri berbeda. NII quarterly run-rate Juli turun ke Rp20,0 triliun dari Rp20,4 triliun di 2Q26. NIM terkoreksi ke 337 bps, turun 21 bps QoQ dan 53 bps YoY — tekanan yang datang terutama dari funding cost yang melonjak 30 bps QoQ ke 233 bps. Asset yields memang naik tipis 9 bps, tapi tidak cukup untuk mengkompensasi kenaikan biaya dana.

Yang lebih krusial: jika run-rate Juli ini berlanjut, pertumbuhan NII Mandiri untuk FY2026 hanya akan mencapai sekitar 4,6% YoY — jauh di bawah capaian 1H26 sebesar 8% YoY, dan sangat jauh dari ekspektasi konsensus di 14%. Gap antara trajectory aktual dan konsensus ini yang berpotensi memicu repricing ekspektasi pasar terhadap saham BMRI.

Satu hal yang membedakan Mandiri secara struktural adalah pelemahan CASA. Meski loan growth tetap kuat di 15% YoY dan 11% YTD, CASA justru turun 2,5% YTD. Ini menjelaskan mengapa funding cost naik — Mandiri harus mengandalkan deposito berbiaya lebih tinggi untuk mendanai ekspansi kredit yang agresif. Pertumbuhan tanpa dukungan CASA yang solid hampir selalu berujung pada margin compression.

Untuk BNI dan BRI, tren Mandiri di Juli bisa menjadi leading indicator. Kedua bank ini memiliki profil funding yang lebih mirip Mandiri dibanding BCA — CASA ratio yang lebih rendah dan eksposur lebih besar ke segmen korporasi dan UMKM yang sensitif terhadap pergerakan cost of funds. Jika pola yang sama terulang di laporan Juli mereka, tekanan NIM bisa menjadi tema dominan di earnings season 3Q26.

BCA saat ini sedang dalam posisi yang enviable: loan growth sehat, NIM menguat, dan funding cost terkendali. Mandiri, di sisi lain, sedang menghadapi tradeoff klasik antara volume dan margin — dan untuk saat ini, margin yang menanggung bebannya.