LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BI Tahan Suku Bunga 5,75% Hingga 2027

Survei konsensus ekonom memproyeksikan Bank Indonesia menahan suku bunga di 5,75% hingga akhir 2027, lebih dovish dari ekspektasi sebelumnya.


Bank Indonesia diproyeksikan tidak akan mengubah suku bunga acuannya setidaknya hingga akhir 2027. Survei konsensus ekonom yang dilakukan 20–26 Agustus menunjukkan median estimate suku bunga BI tetap di 5,75% sepanjang periode tersebut — sebuah pergeseran yang cukup signifikan dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan kenaikan ke 6,00% pada kuartal ketiga 2026.

Artinya, pasar kini melihat BI dalam posisi on hold yang lebih panjang dari yang diantisipasi sebelumnya. Ini bukan sekadar revisi teknis — ini mencerminkan perubahan fundamental dalam outlook inflasi dan pertumbuhan Indonesia.

Dari sisi inflasi, CPI 2026 direvisi turun ke 3,30% y/y dari sebelumnya 3,40%. Lebih detail lagi, CPI kuartal ketiga dan keempat 2026 masing-masing turun ke 3,18% dan 3,20%. Dengan inflasi yang semakin terkendali dan masih dalam rentang target BI, tekanan untuk menaikkan suku bunga praktis menghilang. Justru ruang untuk mempertahankan stance yang akomodatif semakin terbuka.

Di sisi pertumbuhan, gambarnya lebih menarik. GDP 2026 direvisi naik tipis ke 5,11% y/y, tapi revisi yang lebih mencolok ada di angka kuartal keempat: dari 4,58% menjadi 4,86%. Ini mengindikasikan momentum pertumbuhan yang membaik menjelang akhir tahun, bukan melambat. GDP 2027 dipertahankan di 5,00% — konsisten dengan tren jangka menengah.

Satu area yang perlu diperhatikan adalah current account. Defisit transaksi berjalan 2026 direvisi lebih lebar ke 1,30% dari GDP, naik dari proyeksi sebelumnya 1,17%. Defisit yang melebar biasanya memberi tekanan pada rupiah, dan dalam konteks suku bunga yang ditahan, dinamika ini bisa menjadi variabel penting bagi pergerakan nilai tukar ke depan.

Bagi pasar modal Indonesia, kombinasi suku bunga stabil dan pertumbuhan yang solid secara historis adalah kondisi yang favorable untuk ekuitas — terutama sektor yang sensitif terhadap suku bunga seperti properti, perbankan, dan infrastruktur. Namun current account deficit yang melebar bisa membatasi potensi apresiasi rupiah, yang pada gilirannya mempengaruhi sektor dengan eksposur utang luar negeri signifikan.

Yang menarik dari revisi ini adalah arahnya: inflasi turun, pertumbuhan naik, dan suku bunga tetap. Ini adalah skenario soft landing yang cukup ideal — setidaknya dari perspektif konsensus saat ini.