LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BIPI Kembali Laba, Efisiensi Jadi Motor Pemulihan

PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan turnaround pada semester I 2026. Perseroan mencatat laba bersih US$4,44 juta, berbalik dari rugi bersih US$9,90 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pemulihan ini terjadi ketika total pendapatan justru turun 33,22% year-on-year menjadi US$96,72 juta, sehingga faktor utama perbaikan kinerja berasal dari efisiensi biaya, bukan ekspansi topline.

Penjualan batu bara tetap menjadi kontributor terbesar dengan nilai US$78,21 juta atau sekitar 81% dari total pendapatan. Bisnis sewa pelabuhan menyumbang US$12,10 juta, disusul layanan CPP dan OLC sebesar US$4,55 juta serta pendapatan lainnya US$1,85 juta. Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa earnings BIPI masih sangat sensitif terhadap volume penjualan dan dinamika harga batu bara, meskipun portofolio pelabuhan dan infrastruktur mulai memberikan diversifikasi.

Penurunan beban pokok pendapatan sebesar 41,44% YoY menjadi US$76,23 juta mampu mengimbangi kontraksi pendapatan. Karena biaya turun lebih cepat daripada revenue, laba bruto meningkat 39,77% menjadi US$20,49 juta. Gross margin pun melebar menjadi sekitar 21,2%, dibandingkan sekitar 10,1% pada 1H25. Operating leverage berlanjut pada laba usaha yang melonjak 63,99% menjadi US$15,04 juta, dengan operating margin sekitar 15,6%.

Neraca juga bergerak lebih sehat. Total aset tercatat US$1,53 miliar, sedangkan liabilitas turun 6,28% YoY menjadi US$937,23 juta. Deleveraging ini mendukung kualitas pemulihan karena menurunkan tekanan struktur pendanaan. Meski demikian, liabilitas masih setara sekitar 61% dari total aset, sehingga kesinambungan cash flow operasional tetap menjadi faktor penting.

Dari sisi valuasi, BIPI diperdagangkan pada PBV 1,08x, lebih rendah daripada rata-rata subsektor oil, gas, and coal sebesar 1,76x. Discount tersebut memberi indikasi valuasi aset yang relatif murah. Namun, PER 59,58x jauh di atas rata-rata subsektor 10,39x. Gap ini muncul karena laba bersih baru memasuki fase pemulihan dan basis earnings masih rendah.

Dengan demikian, investment case BIPI bertumpu pada kemampuan mempertahankan margin setelah efisiensi semester pertama. Jika laba membaik tanpa dukungan pertumbuhan pendapatan, ruang rerating berpotensi terbatas. Sebaliknya, kombinasi revenue recovery, disiplin biaya, dan penurunan liabilitas dapat mempercepat normalisasi PER serta memperkuat alasan di balik discount PBV saat ini.