LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BJBR: Recovery Nyata, Tapi NPL Masih Jadi Batu Sandungan

Bank BJB (BJBR) membukukan salah satu earnings recovery paling solid di sektor perbankan regional tahun ini — PATMI 1H26 tercatat IDR783 miliar, naik 58.8% YoY. Angka ini setara 46% dari estimasi full-year consensus, yang artinya 2H26 harus bekerja keras untuk menutup sisanya. Pertanyaannya bukan apakah recovery sedang terjadi, tapi seberapa berkelanjutan momentum ini.

Yang menarik dari hasil 1H26 adalah dari mana earnings ini datang. Bukan dari loan growth — justru sebaliknya. Consolidated loans turun 2.6% YoY ke IDR140.4 triliun, sebagian karena BJBR memang sengaja memangkas eksposur productive loans berisiko tinggi dan yield rendah. Corporate loans bank-only anjlok 14.2%, commercial turun 17.1%. Sekitar IDR1.56 triliun productive loans dengan yield di bawah 8% sudah dikeluarkan dari buku. Ini bukan kontraksi yang mengkhawatirkan — ini portfolio clean-up yang disengaja.

Recovery earnings justru ditopang tiga hal: funding cost optimization, cost discipline, dan shift ke aset higher-yield. Interest expense turun 12.3% YoY meski environment suku bunga masih elevated. Cost of Funds bank-only membaik dari 4.8% ke 4.1%, CASA naik ke 45.9%, dan CIR turun drastis dari 76.9% ke 64.9%. ROE yang sempat tertekan ke 6.3% di 1H25 kini sudah balik ke 10.4%.

Untuk 2H26, management menargetkan pertumbuhan consumer loans minimal 4% — didorong oleh tiga katalis utama:

  • KGB Pisan — digital lending via mobile app yang tumbuh 122% YoY dalam jumlah akun, dengan outstanding loans naik 148.6% ke IDR194.7 miliar. Pipeline dari cross-selling ke 69,000 existing borrowers dan new customers berpotensi tambah sekitar IDR538 miliar.
  • P3K financing — pinjaman untuk pegawai pemerintah kontrak, segmen yang belum sepenuhnya tergarap.
  • Payroll partnerships baru — dengan TNI, Bulog, dan beberapa SOE lainnya. Joint financing dengan Bank Jambi juga bisa tambah hingga IDR100 miliar loan baru.

Dari sisi NIM, posisi 3.9% di 1H26 sudah melampaui guidance minimum 3.7%. LDR yang comfortable di 81.7% memberi ruang yang cukup untuk ekspansi kredit tanpa harus agresif naikkan cost of funds. Management juga menargetkan opex reduction lanjutan 4–5% di 2H26.

Tapi ada satu hal yang membuat thesis ini belum bisa fully bullish: asset quality. Gross NPL naik ke 3.33%, sedikit di atas batas atas guidance 3.25%. Yang lebih mengkhawatirkan, NPL coverage turun ke 89.2% — di bawah target range 90–100%. Stress paling besar ada di segmen commercial (NPL 13.88%) dan corporate (7.00%). Memang, sekitar IDR813.7 miliar dari NPL ini berasal dari dua debitur besar yang sudah fully provided — jadi downside-nya terbatas. Tapi angka ini tetap jadi hambatan psikologis untuk re-rating.

BJBR sedang dalam proses write-off loans bermasalah yang sudah fully provided — setara sekitar 272bps dari gross NPL — tapi masih dalam review regulator. Sementara itu, bank juga piloting centralized commercial business centre di Jakarta untuk memperkuat credit underwriting, yang dalam tiga bulan pertama sudah menyalurkan IDR163 miliar ke 26 debitur.

Dari sisi valuation, saham ini diperdagangkan di P/B 0.4x dengan dividend yield FY27F sekitar 11% — bukan angka yang mahal untuk bank dengan franchise consumer yang masih solid. Tapi tanpa perbaikan nyata di NPL dan coverage ratio, re-rating yang meaningful sulit terjadi. 2H26 adalah ujian sesungguhnya: apakah loan growth bisa recover ke target, dan apakah NPL bisa mulai turun secara konsisten.