LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BMRI: Upside 50% dengan Dividen 11%

Bank Mandiri diperdagangkan di PER 6x dengan dividend yield 11% dan target harga IDR 5.765. Ini bukan saham mahal — ini saham yang salah harga.


Di harga IDR 4.150, Bank Mandiri (BMRI) diperdagangkan pada PER 6,1x untuk 2026 dan P/BV 1,2x — valuasi yang sulit dijelaskan untuk bank dengan ROE di atas 20% dan dividend yield 11,3%. Kalau ini bukan undervalued, susah mendefinisikan kata itu.

Target harga 12 bulan berada di IDR 5.765, yang berarti total shareholder return sekitar 50,2% jika memperhitungkan dividen. Untuk konteks, DPS 2026 diproyeksikan IDR 470,5 dengan payout ratio target 70% — angka yang konsisten dengan komitmen manajemen untuk mempertahankan ROE di atas 18%.

Yang menarik dari sisi operasional adalah cara BMRI membaca kondisi likuiditas. Manajemen lebih fokus pada kelebihan likuiditas harian di pasar uang — yang dianggap sehat di kisaran Rp40–60 triliun — dibandingkan sekadar mengejar angka LDR. Pendekatan ini lebih pragmatis dan mencerminkan posisi BMRI sebagai bank dengan basis simpanan pemerintah yang besar.

Total simpanan terkait pemerintah tercatat Rp98 triliun, terdiri dari simpanan SMV (Special Mission Vehicle) Rp43 triliun di rate sekitar 7%, dan excess-budget deposits Rp55 triliun. Sekitar Rp49 triliun dari penempatan Juni 2026 berpotensi ditarik, tapi ini bukan risiko tanpa mitigasi — pinjaman terkait pemerintah memiliki bobot risiko nol, sehingga tidak mengonsumsi modal.

Funding cost diperkirakan masih flat di 3Q26, dengan perbaikan baru terlihat di 4Q26 seiring lingkungan SRBI yang lebih dovish. Jatuh tempo SRBI yang meningkat di September–Oktober menjadi katalis potensial untuk tekanan biaya dana yang mereda.

Di sisi kualitas aset, segmen ritel masih menjadi titik lemah. Auto loans memimpin pemburukan, sementara NPL mikro sempat membaik dari 2Q25 ke 1Q26 sebelum naik kembali. Ini yang membuat risk appetite BMRI di ritel lebih selektif — dan loan growth 2H26 pun diproyeksikan melambat.

Tapi ada satu angka yang membungkam sebagian besar kekhawatiran: untuk laba BMRI miss dari konsensus, laba kuartalan harus turun sekitar 12% QoQ dan bertahan di level itu secara berkelanjutan. Skenario yang, berdasarkan trajectory fundamental saat ini, tampak tidak realistis.

Net interest income memang turun dari Rp106,2 triliun di 2025A ke Rp101,7 triliun di 2026E — tekanan NIM yang sudah diantisipasi pasar. Tapi reported profit justru naik dari Rp56,3 triliun ke Rp63,4 triliun, dengan EPS growth 12,6% di 2026. Profitabilitas bergerak ke arah yang benar meski revenue mix sedang dalam transisi.

Dengan kapitalisasi pasar USD 21,7 miliar dan free float 48%, BMRI tetap salah satu saham paling liquid di IHSG dengan rata-rata turnover USD 45,6 juta per hari. Untuk investor yang mencari kombinasi value, yield, dan katalis jangka menengah dari normalisasi suku bunga — posisi BMRI saat ini cukup menarik untuk dicermati lebih dalam.