Sell-off di pasar obligasi global saat ini bukan sekadar rotasi aset biasa. Ada sesuatu yang lebih struktural dan lebih berbahaya sedang terjadi — dan pasar saham chipmaker yang ikut ambrol hari ini hanyalah efek sampingnya.
Faktor terbesar yang sering luput dari narasi mainstream: gangguan di Selat Hormuz sedang menciptakan shortfall nyata di pasar refined products global, khususnya diesel. Efeknya sudah merambat ke ekonomi AS. Ketika supply diesel terganggu, biaya logistik naik, inflasi input melonjak, dan Federal Reserve pun kehilangan ruang untuk pivot. Itu langsung tercermin di yield curve.
Situasi geopolitiknya sendiri makin complicated. Hormuz kini menjadi medan tarik-menarik antara narasi AS Navy versus ship-tracking firms soal seberapa banyak minyak yang masih mengalir. Iran semakin agresif — kapal-kapal diserang, UAE jadi target untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, dan hubungan dagang UAE-Iran kini putus. Di sisi lain, AS disebut-sebut mempertimbangkan untuk menutup beberapa pangkalan militer di Teluk dan mengonsolidasikan posisi di Jordan dan/atau Israel. Satu langkah maju, satu langkah mundur.
Lalu ada front Eropa. Ekonomi Rusia mulai menunjukkan retakan — ada laporan bank runs, seorang ekonom senior dipecat setelah menyatakan Moskow tidak bisa menang dalam perang attrisi ekonomi melawan Ukraina. Tapi justru di sinilah risiko eskalasi meningkat: ketika pihak yang terdesak mulai merasa tidak punya banyak pilihan.
Yang menarik — dan ini penting untuk dipahami investor obligasi — adalah divergensi antara yield global dan yield China. Sementara yield di AS, Eropa, dan Jepang melonjak, yield obligasi China justru turun. Ini bukan sinyal bahwa CNY sedang naik daun sebagai reserve currency alternatif. Ini adalah sinyal deflasi. China sedang mengalami apa yang dialami Jepang pasca-1991: debt levels terus naik, private borrowing stagnan, dan state terpaksa jadi borrower of last resort. Fakta bahwa bunga deposito USD di bank China berkisar 3–4% sementara CNY 0% bukan karena USD dianggap berisiko — melainkan karena USD langka di sana.
Jepang pun tidak kalah menarik. Ada wacana serius — bukan sekadar opini pinggiran — bahwa Jepang perlu mempertimbangkan deterren nuklir sendiri mengingat ketidakpastian komitmen AS. Kalau itu terjadi, bayangkan ke mana JGB yields akan bergerak. Dan siapa yang akan menjadi backstop pasar JGB dan JPY? Jawabannya: AS. Atau tidak ada.
Secara keseluruhan, ini adalah gambaran sistem global yang sedang tidak bekerja dengan baik secara bersamaan: AS yang over-leveraged terjebak di konflik berlapis, allies-nya punya debt problem lebih besar dengan growth lebih rendah, Rusia yang secara fisik dihancurkan, dan China yang deflasi. Dalam konteks ini, wajar kalau gold kembali relevan sebagai alternatif atas fiat currency manapun.
Untuk pasar obligasi sendiri, satu-satunya katalis yang benar-benar bisa membalikkan rout ini adalah de-eskalasi perang — di Iran, di Ukraina, dan idealnya di seluruh peta konflik yang sedang melebar. Tapi itu bukan base case yang bisa dipegang dalam jangka pendek. Central banks kini dihadapkan pada dilema klasik: inflasi yang dipicu supply shock geopolitik tidak bisa diselesaikan hanya dengan menaikkan suku bunga, tapi membiarkannya juga bukan pilihan. RBA misalnya masih hawkish — khawatir inflasi terlalu tinggi, siap naikkan rate lagi — bahkan ketika house prices sudah mulai slump.
Bagi investor, yield yang melonjak di tengah ketidakpastian geopolitik bukan sekadar opportunity di fixed income. Ini adalah sinyal bahwa risk premium di hampir semua asset class perlu di-reprice ulang.