Laba BRIS 2Q26 naik 5% yoy meski NIM turun 35 bps. Fee income dan credit costs jadi penyelamat. Valuasi masih diskon besar dari target.
Bank Syariah Indonesia ($BRIS) membukukan laba bersih Rp1,96 triliun di kuartal kedua 2026 — turun 11% secara kuartalan, tapi masih tumbuh 5% dibanding periode yang sama tahun lalu. Secara akumulasi semester pertama, angka ini sudah menyentuh 50% dari proyeksi full-year, yang artinya BRIS on-track untuk mencapai target tahunan meski tekanan NIM semakin nyata.
Yang menarik dari kuartal ini bukan pada laba absolutnya, tapi pada komposisi yang menopangnya. Net Interest Income (NII) turun cukup dalam — minus 9% yoy — seiring NIM yang tergerus 35 bps ke level 5,24%. Penyebabnya kombinasi rising rates dan strategi pre-emptive funding: BRIS agresif menghimpun deposito jangka pendek 1–3 bulan sebagai antisipasi potensi penarikan dana pemerintah (MOF/RTV) senilai Rp10 triliun di akhir tahun. Ironisnya, sinyal terbaru menunjukkan dana tersebut kemungkinan tidak jadi ditarik — artinya BRIS sudah menanggung cost of fund lebih tinggi untuk risiko yang mungkin tidak terjadi.
Tapi dua faktor lain yang menutupi tekanan ini: fee income dan credit costs. Non-interest income melonjak 60% yoy, didorong bisnis emas dan e-channels. Fee-based income kini berkontribusi 30% dari total pendapatan di 1H26, naik dari 27% di FY25 — diversifikasi yang mulai terasa signifikan. Di sisi lain, credit costs turun drastis ke 53 bps (-44 bps yoy), sejalan dengan pergeseran portofolio ke segmen konsumer yang risikonya lebih terkontrol. NPL stabil di 1,80%.
Loan growth juga solid. Total pembiayaan tumbuh 16% yoy, dengan bisnis emas menjadi bintang: naik 81% yoy dan 6% qoq. Corporate loans tumbuh 21% yoy. Di tengah likuiditas yang ketat, BRIS memilih memperbesar market share ketimbang defend margin — sebuah trade-off yang masuk akal jika memang funding cost mereka lebih kompetitif dibanding peers.
Dari sisi valuasi, saham BRIS saat ini diperdagangkan di Rp1.805, dengan P/E 2026E di 10,1x dan P/B 1,4x. Target price yang beredar di Rp3.220 mencerminkan expected return lebih dari 80% termasuk dividen — gap yang cukup besar dan mengindikasikan pasar belum sepenuhnya memperhitungkan trajectory pertumbuhan laba BRIS ke depan. Proyeksi net profit 2028E di Rp11,7 triliun, dengan EPS growth 21,5% dan yield 3,5%, menunjukkan compounding story yang masih intact.
Risiko utama yang perlu diperhatikan: skenario suku bunga yang lebih tinggi lebih lama akan terus menekan NIM, kompetisi di bisnis emas mulai datang dari pemain baru, dan perlambatan makro bisa memunculkan tekanan kualitas aset yang belum terlihat di angka NPL saat ini. Tapi selama loan growth tetap kencang dan fee income terus naik porsinya, BRIS punya buffer yang cukup untuk melewati tekanan margin jangka pendek ini.