LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

BULL: Krisis Hormuz Bikin Saham Ini Bisa 63% Upside

Selat Hormuz tutup, dan pasar tanker global langsung sesak napas. Traffic kapal di selat itu anjlok ke sekitar 20% dari level normal — dari puluhan kapal per hari menjadi hanya 11–30 unit. Sekitar 2.000 kapal tertahan di Teluk Persia. Dampaknya langsung terasa ke freight rate: Aframax Middle East–Far East kini berada di kisaran USD 120,000/day, jauh di atas rata-rata 5 tahun yang hanya USD 45,000/day.

Di sinilah BULL (Buana Lintas Lautan) masuk sebagai salah satu nama paling menarik untuk dicermati. Hampir seluruh armadanya beroperasi di luar perairan konflik — sekitar 36% berlayar di Mediterania, sisanya di rute internasional lain. Tidak ada satu pun kapal BULL yang terekspos langsung ke Teluk Persia. Artinya, mereka menikmati kenaikan rate tanpa menanggung risiko operasional dari konflik.

Ton-mile demand — ukuran seberapa jauh kargo diangkut — melonjak karena rute alternatif jauh lebih panjang. Rerouting via Red Sea menambah sekitar 900 nautical miles dan minimal satu hari transit. Kalau supply bergeser dari Middle East ke US Gulf Coast, voyage ke China bisa memanjang dari 19 hari menjadi 50 hari. Itu artinya kapasitas kapal yang sama bisa mengangkut jauh lebih sedikit kargo per tahun — efektif mempersempit supply tanker global.

Kondisi ini diperparah oleh sanksi terhadap Rusia, Iran, dan Venezuela yang sudah lebih dulu menarik sekitar 15.6% armada tanker global dari pasar mainstream. Dark fleet kini mengisi 12–15% supply global, sementara ~40% dikontrol oleh pemain besar seperti COSCO dan MSC. Yang tersisa untuk open market hanya sekitar 45% dari total kapasitas global — dan itulah yang sedang diperebutkan semua charterer saat ini.

Dari sisi fundamental, angkanya cukup mencolok. BULL di FY26F diproyeksikan membukukan revenue USD 341 juta (+134% YoY), EBITDA USD 143 juta (+181% YoY), dan net profit USD 95 juta — atau setara EPS growth 287% YoY. EBITDA margin diperkirakan naik ke 41.9% dari 35% di FY25. ROAE bisa mencapai 38.1%, jauh di atas peer global yang rata-rata 23.7%.

Katalis jangka pendek datang dari dua kapal Handymax yang dijadwalkan masuk armada di 1H26, tepat saat freight rate masih elevated. Jika TCE rate bisa dipertahankan di USD 75,000/day hingga akhir tahun, earnings leverage-nya sangat signifikan — setiap perubahan 15% pada charter rate berdampak sekitar 22% ke net profit.

Untuk LNG, BULL juga sedang membangun exposure yang cukup serius. Garuda — LNG carrier berkapasitas 145,914 CBM yang diakuisisi Desember 2025 — diproyeksikan berkontribusi sekitar USD 16 juta revenue per tahun dalam kondisi full utilization. Ditambah dua LNG carrier tambahan yang direncanakan masuk dari 2H26, total incremental LNG revenue bisa mencapai USD 47 juta, dengan tambahan net profit sekitar USD 12.7 juta. Ini bukan sekadar diversifikasi — ada structural demand yang mendukungnya: empat proyek upstream gas besar Indonesia (Abadi Masela, BP Tangguh UCC, IDD & Geng North, Asap Kido Merah) mewakili investasi gabungan ~USD 46 miliar dan akan menambah lebih dari 3.7 Bscfd produksi gas pada 2030, mayoritas dari Indonesia timur — sementara demand terkonsentrasi di barat. BULL berpotensi mengisi gap logistik ini.

Ada satu wildcard yang belum diprice-in pasar: potensi strategic tie-up dengan Sinarmas, yang bisa membuka akses ke armada Hyundai LNG Shipping — 18 kapal (12 LNG + 6 LPG). Dengan indicative charter rate USD 50,000/day untuk LNG dan USD 25,000/day untuk LPG, armada itu bisa menghasilkan hingga USD 270 juta revenue tambahan per tahun, atau lebih dari 75% dari proyeksi revenue FY26F BULL saat ini. Belum ada kepastian, tapi kalau materialized, ini bisa jadi step-change yang sangat besar.

Dari sisi valuation, BULL saat ini diperdagangkan di 4.1x FY26F P/E — diskon 53% terhadap global shipping peers dan 56% di bawah SOCI sebagai local peer terdekat. Target price IDR 700 per saham (dari harga saat ini IDR 430) dihitung menggunakan DCF-FCFF 5 tahun dengan WACC 14.6% dan terminal growth 1%, menghasilkan implied equity value IDR 11.5 triliun atau setara FY27F P/E 5.8x.

Key risks yang perlu diperhatikan: normalisasi charter rate jika konflik Hormuz mereda lebih cepat dari ekspektasi, keterlambatan delivery kapal baru, dan demand LNG yang lebih lemah dari proyeksi. Capex juga besar — FY26F diperkirakan USD 152 juta atau sekitar 45% dari revenue, sebagian besar debt-funded. Tapi dengan EBITDA yang melonjak signifikan, debt-to-equity justru diproyeksikan turun ke 45% dari 57% di FY25.