LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Bull Market Terbesar dalam Sejarah: Masih Inning Kedua

Analisis mendalam: apakah koreksi saat ini hanya jeda sementara dari bull market terbesar dalam sejarah? Dari AI, biotech, hingga rotasi sektor.


Di tengah frustrasi yang melanda banyak investor setelah euforia luar biasa di kuartal kedua, ada satu perspektif yang layak dipertimbangkan secara serius: kita mungkin baru saja menyelesaikan inning kedua dari permainan sembilan babak yang akan berlangsung 15 hingga 20 tahun ke depan.

Kuartal kedua memang menjadi salah satu periode terbaik dalam sejarah pasar modal modern. Bukan sekadar saham yang naik 50% atau 100% — ada yang melonjak 200% hingga 300% dalam waktu singkat. Wajar jika kemudian banyak investor merasa spoiled, dan ketika pasar mulai berkonsolidasi, frustrasi pun muncul. Tapi justru di sinilah letak kesalahan berpikir yang paling umum: mengira bahwa koreksi adalah tanda berakhirnya sebuah siklus, padahal seringkali itu hanya cara pasar menarik nafas sebelum leg berikutnya.

Indeks Masih Bicara Bahasa yang Berbeda dari Sentimen

Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah divergensi antara sentimen investor dan kondisi aktual indeks. Ketika banyak orang merasa pasar sedang dalam kondisi buruk, RSP — Invesco S&P 500 Equal Weight ETF — berada kurang dari 1% dari all-time high-nya. Ini bukan chart yang sedang runtuh. Ini chart yang bahkan tidak memecah 8-day EMA-nya.

NASDAQ memang sempat menyentuh area 50-day moving average, yang secara teknikal adalah momen yang wajar untuk diuji. Tapi jarak antara NASDAQ dan 200-day moving average-nya masih cukup signifikan — ini bukan sinyal distribusi besar, ini lebih terlihat seperti healthy digestion setelah kenaikan yang tajam. Selama indeks dan saham-saham pilihan masih berada di atas, atau dalam jarak beberapa persen dari 50-day MA, sinyal dasarnya masih hijau.

Philly Fed Manufacturing Index yang berada di level tertinggi dalam 36 tahun adalah data makro yang seharusnya tidak diabaikan. Ini bukan latar belakang yang biasanya menyertai awal dari bear market yang serius.

Rotasi Sektor: Mereka yang Bergerak, Mereka yang Tertinggal

Salah satu realita yang paling penting untuk dipahami dalam siklus ini adalah bahwa pasar tidak naik secara merata. Investor yang masih memegang saham-saham fiber optik dan semikonduktor lama yang sudah stagnan memang merasakan Q3 yang berat. Tapi mereka yang berhasil melakukan rotasi ke biotech, gold, dan crypto memiliki pengalaman yang sangat berbeda.

Ini bukan anomali — ini adalah pola klasik dalam bull market yang panjang. Kepemimpinan berganti. Sektor yang memimpin di satu fase tidak selalu memimpin di fase berikutnya. Kemampuan untuk mengidentifikasi rotasi ini, dan memiliki fleksibilitas untuk mengikutinya, adalah salah satu skill paling berharga dalam growth investing.

Yang menarik adalah bahwa AI sebagai tema investasi belum selesai. Justru sebaliknya — koreksi pada saham-saham AI terkemuka bisa menjadi setup untuk leg berikutnya sebelum tahun ini berakhir. Pola ini mirip dengan apa yang terjadi pada Cisco di era 1990-an: saham tersebut naik sekitar 75.000% dari IPO hingga puncaknya di tahun 2000, tapi di sepanjang perjalanan itu ada basis-basis panjang, bahkan ada yang berlangsung hampir satu tahun penuh, di mana harga tidak kemana-mana. Investor yang tidak memahami konteks ini akan keluar di titik yang salah.

Paralel dengan Dot-Com: Apa yang Sama, Apa yang Berbeda

Perbandingan dengan era internet akhir 1990-an memang tidak bisa dihindari, tapi perlu dilihat secara nuansir. Yang sama: kita sedang berada di awal gelombang transformasi teknologi yang besar, dan gelombang seperti ini historisnya menghasilkan multi-bagger yang luar biasa sekaligus volatilitas yang ekstrem. Yahoo, misalnya, mengalami lima hingga tujuh kali koreksi 50% sepanjang siklus bull market-nya — tapi tetap menghasilkan return yang fenomenal bagi investor yang memahami konteksnya.

Yang berbeda: sebagian besar nama yang kolaps di era 2000-an adalah perusahaan tanpa earnings, tanpa model bisnis yang jelas, yang IPO hanya karena pasar sedang euforia. Saat ini, kita belum melihat gelombang IPO tanpa earnings yang discribe 15 kali dan langsung naik 300% dalam sehari. Menurut perspektif historis, fase itu} biasanya datang di akhir siklus, bukan di awal. Artinya, jika pola ini terulang, kita masih jauh dari fase terminal tersebut.

Satu perbedaan struktural lain yang signifikan: ekosistem private equity dan venture capital saat ini jauh lebih matang dibanding tahun 1990-an. Perusahaan seperti SpaceX, Anthropic, dan OpenAI sudah menjadi mega-cap bahkan sebelum mereka listing di bursa publik. Ini mengubah dinamika IPO — ketika mereka akhirnya listing, mereka datang dengan valuasi yang sudah sangat besar, bukan sebagai perusahaan kecil yang baru memulai. Angka valuasi seperti satu triliun dolar yang terdengar mengejutkan hari ini, pada dasarnya hanyalah angka — sama seperti dulu ketika volume perdagangan NYSE sebesar 20 juta saham per hari terdengar fantastis, padahal Nvidia sekarang memperdagangkan 150 juta saham per hari sendirian.

Biotech dan AI: Konvergensi yang Baru Dimulai

Salah satu tema investasi yang paling underappreciated saat ini adalah pertemuan antara AI dan ilmu hayati. Di era Human Genome Project sekitar tahun 2000, kita berhasil memetakan tiga miliar pasang basa DNA — tapi tanpa computing power yang memadai untuk benar-benar menganalisis apa artinya semua data itu. Hasilnya adalah peta yang ada tapi belum bisa dibaca secara penuh.

Hari ini, AI dapat memodelkan bagaimana pasangan basa DNA menghasilkan protein tertentu, bagaimana protein itu melipat (protein folding), dan apa implikasinya terhadap fungsi biologis tubuh. Ini bukan teori — ini sudah menghasilkan terobosan nyata, termasuk pengembangan vaksin berbasis neoantigen untuk melanoma yang menargetkan sekitar 2,5% populasi. Kecepatan penemuan obat yang didorong AI akan terus meningkat, dan setiap penemuan besar berpotensi mengubah perusahaan biotech berkapitalisasi kecil menjadi raksasa dalam semalam.

XBI — ETF biotech — menunjukkan up/down volume ratio di angka 2,1, yang merupakan sinyal institutional accumulation yang cukup kuat. Ini adalah jenis data under-the-hood yang sering diabaikan oleh analis konvensional yang terbiasa hanya memberikan price target 20% di atas harga saat ini, tanpa memiliki kerangka untuk memahami bahwa saham-saham terbaik dalam siklus ini bisa naik 400%, 600%, bahkan 1.000%.

Pola Teknikal: Bukan Kehancuran, Tapi Persiapan

Dari sisi teknikal, kondisi saat ini lebih tepat dibaca sebagai fase pembentukan basis daripada distribusi. Double bottom membutuhkan pullback. Cup and handle membutuhkan koreksi. Tanpa fase ini, tidak ada setup yang solid untuk breakout berikutnya. Volatilitas yang ada saat ini — pola yang choppy dan loose pada banyak saham — memang membuat trading lebih sulit, tapi itu bukan sinyal bahwa bull market telah berakhir.

Yang perlu dilakukan investor justru adalah memanfaatkan periode ini untuk membangun watchlist yang solid: mengidentifikasi siapa pemimpin berikutnya, sektor mana yang sedang dalam proses akumulasi, dan setup mana yang paling ketat dan rapi ketika pasar akhirnya kembali berakselerasi. Dalam investing jangka panjang, kemampuan untuk tetap tenang dan produktif di fase transisi seperti ini seringkali lebih menentukan hasil akhir dibanding keberanian mengambil posisi di puncak euforia.

Pasar bull yang sesungguhnya tidak berakhir karena koreksi 10–15%. Ia berakhir ketika fundamental berubah, ketika likuiditas mengering, atau ketika euforia mencapai titik terminal — IPO tanpa earnings yang discribe belasan kali, valuasi yang sudah tidak bisa dibenarkan dengan skenario apapun, dan semua orang di sekitar Anda membicarakan saham di meja makan. Kita belum di sana.