Net profit BUMI 1H26 naik 188% YoY, tapi PER 2026F masih 16.9x — jauh di atas rata-rata sektor. Ada cerita apa di balik angka ini?
Angka yang paling mencolok dari laporan BUMI kuartal ini bukan revenue-nya — meski tumbuh 36.4% YoY di 2Q26. Yang lebih menarik adalah net profit 2Q26 yang melonjak lebih dari 1.266% YoY, dari basis yang memang sangat rendah, menjadi USD 35 juta. Secara kumulatif, 1H26 membukukan net profit USD 59 juta, naik 188% dibanding 1H25 yang hanya USD 20 juta.
Tapi sebelum terlalu excited, ada yang perlu dilihat lebih dalam: margin-nya justru tertekan. Gross profit margin 2Q26 turun ke 14.0% dari 18.4% di 1Q26. Penyebabnya cukup jelas — mining cost naik ke USD 8.3/mbcm, atau +64.6% secara YoY. Kenaikan harga bahan bakar jadi biang keroknya. Jadi meskipun volume penjualan batubara naik 3.1% QoQ ke 19.8 juta ton dan ASP naik signifikan ke USD 67.1/ton (+14.5% QoQ), sebagian besar upside itu tergerus di level biaya.
Net profit akhirnya tetap naik bukan semata dari operasional batubara yang makin efisien, tapi lebih karena kombinasi ASP yang lebih tinggi dan basis perbandingan 2Q25 yang sangat lemah. Ini penting untuk dibedakan.
Di sisi lain, ada narasi baru yang sedang dibangun BUMI: diversifikasi ke logam. Operasi Wolfram mulai berjalan akhir Mei 2026 dengan target produksi 15 kt copper-equivalent untuk FY2026F. Feed grade awal masih di 0.78 g/t — belum ideal, tapi ini awal dari ramp-up. Anak usaha BRMS juga mencatat gross margin 62.6% di 1Q26 dengan revenue USD 69.5 juta dan net profit USD 17.5 juta (+21.3% YoY). Harga emas yang masih di sekitar USD 4,076/oz per 3Q MTD jadi tailwind yang solid untuk segmen ini.
Masalahnya, semua potensi itu belum sepenuhnya tercermin dalam valuasi yang murah. Justru sebaliknya — BUMI saat ini diperdagangkan di PER 2026F 16.9x dan EV/EBITDA 2026F 17.5x, keduanya jauh di atas rata-rata sektor yang masing-masing 10.1x dan 8.2x. Peers seperti AADI, ITMG, dan PTBA semuanya jauh lebih murah secara PER dengan ROE yang lebih tinggi. AADI misalnya, PER 2026F hanya 4.6x dengan ROE 23.9%.
Memang ada harapan bahwa EV/EBITDA akan compress ke 5.9x di 2027F seiring kontribusi Wolfram dan normalisasi biaya — tapi itu masih proyeksi. Sementara harga saham BUMI sudah turun 50.3% YTD meski outperform JCI dalam 12 bulan terakhir (+68.5% vs -16.8%). Volatilitas ini mencerminkan betapa sensitifnya saham ini terhadap sentimen komoditas dan eksekusi operasional.
Dua variabel yang paling menentukan ke depan: pertama, apakah harga batubara bisa bertahan atau bahkan menguat seiring potensi El Niño; kedua, seberapa cepat Wolfram bisa ramp-up dan memperbaiki feed grade. Kalau keduanya berjalan sesuai skenario bull case, ada ruang untuk earnings upgrade dan rerating. Tapi kalau salah satu meleset — terutama Wolfram yang masih sangat awal — pemulihan laba bisa tertunda lebih lama dari yang diharapkan.
Dengan cadangan batubara 2.354 juta ton dan kontribusi sekitar 10% dari produksi nasional, BUMI bukan perusahaan kecil. Tapi skala besar tidak otomatis berarti valuasi yang justified. Saat ini, harga saham di IDR 182 — jauh dari 52-week high IDR 484 — mungkin sudah mencerminkan banyak risiko. Tapi apakah itu sudah cukup murah? Tergantung seberapa cepat cerita Wolfram dan BRMS bisa menggeser narasi dari sekadar emiten batubara berbiaya tinggi.