Newcastle coal naik sekitar 20% sejak awal 2026, tapi saham batu bara Indonesia justru turun sekitar 13% dalam periode yang sama. Gap sebesar 35% antara pergerakan harga komoditas dan equity re-rating ini bukan anomali — ini cerminan dari pasar yang skeptis bahwa rally harga batu bara kali ini bisa bertahan seperti 2022. Dan skeptisisme itu, sebagian besar, memang benar.
Kondisi saat ini memang lebih supportif dibanding 12 bulan lalu. El Niño yang berpotensi menjadi "very strong event" (NOAA menetapkan probabilitas 63% untuk anomali sea-surface di atas 2°C) sudah mulai mendorong cooling demand lebih awal dari perkiraan. Gangguan LNG dari kawasan Teluk Persia — termasuk kerusakan signifikan pada fasilitas ekspor Qatar di Ras Laffan yang dilaporkan menghilangkan sekitar 12.8 MTPA kapasitas ekspor — membuat harga Asia LNG (JKM) bertahan di atas USD 20/mmbtu. Pada level itu, insentif switching dari gas ke batu bara di Jepang dan Korea Selatan tetap kuat: coal-fired generation Jepang naik 11.1% YoY di April, sementara Korea Selatan mencatat kenaikan 39.7% YoY di bulan yang sama.
Tapi perbedaan krusial dari 2022 ada di Eropa. Saat itu, Eropa menjadi marginal buyer seaborne coal yang amplify seluruh price cycle. Sekarang, kapasitas coal-fired generation EU sudah turun 55% dari 595 TWh (2018) menjadi 269 TWh (2024). EU hard coal imports pun collapsed dari 127 Mt di 2022 menjadi sekitar 65 Mt di 2025 — bahkan ketika Dutch TTF berulang kali menembus gas-to-coal switching threshold. Structural capacity yang sudah tidak ada tidak bisa direspawn hanya karena harga gas mahal. Ditambah carbon cost di level EUA EUR 100/tCO₂ yang membuat coal-fired generation menanggung beban sekitar EUR 90/MWh versus hanya EUR 35/MWh untuk gas CCGT. Eropa tidak akan kembali sebagai large buyer. Titik.
Dari sisi China, gambarannya lebih nuanced. Inventory coverage memang masih tinggi sekitar 55 consumption days, tapi harga batu bara Qinhuangdao 5,500 kcal justru naik ke sekitar USD 124/t di akhir Juni 2026. Divergensi ini mengindikasikan bahwa aggregate inventory overstates ketersediaan coal dengan kualitas dan lokasi yang tepat. Price spread antara 5,500 kcal dan 4,500 kcal yang melebar menjadi sinyal lebih jelas: China semakin butuh higher-CV seaborne coal karena domestic mine restarts pasca-kecelakaan Shanxi belum kembali ke kapasitas penuh — operating rate masih di 70-80% design capacity. Ini bukan demand boom, tapi cukup untuk menjaga seaborne balance tetap tight.
Di level domestik, kebijakan makin menarik untuk dicermati. Produksi 1H26 sudah mencapai 367 Mt — setara 61% dari target awal 600 Mt. Padahal secara historis, 1H hanya menyumbang 43-49% dari produksi tahunan. Artinya, target 600 Mt sudah tidak relevan. Proyeksi yang lebih realistis ada di kisaran 700-750 Mt untuk full-year 2026, dengan potensi upside jika RKAB revision berjalan lebih cepat. Driver utamanya adalah shortfall PLN sekitar 20 Mt, yang terkonsentrasi di medium-CV coal sekitar 5,200 kcal.
Dari sisi stock picking, inilah yang menarik:
- PTBA (ADD, TP IDR 2,700) — Paling diuntungkan dari kombinasi RKAB relaxation dan potensi kenaikan DMO price cap. Domestic exposure PTBA sekitar 46% dari revenue, dengan 55% produksi 1H26 masuk ke DMO. Jika DMO price naik dari USD 70/t, realization improvement langsung terasa di earnings tanpa perlu volume tambahan. PLN pun punya ruang absorb kenaikan moderat: average selling price PLN sekitar IDR 1,185/kWh versus total operating cost thermal sekitar IDR 930/kWh.
- BUMI (BUY, TP IDR 290) — Thesis-nya bukan coal beta, melainkan earnings diversification. Wolfram sudah commercial production sejak April 2026, dengan estimasi net profit USD 54-58 mn di 2026 dan potensi produksi minimal double di 2027. Jubilee menyusul sekitar November 2026. Akuisisi Laman Mining dan Loyal Metals menambah pipeline non-coal jangka panjang. Dengan P/E forward 8x, valuasi sudah price-in coal base case, bukan Wolfram upside.
- AADI (BUY, TP IDR 11,000) — Katalisnya bukan harga batu bara, melainkan Kestrel divestment. Penjualan 47.99% stake Kestrel diperkirakan menghasilkan sekitar USD 1.1 bn upfront proceeds plus contingent payments hingga USD 550 mn. Special dividend dari proceeds ini adalah company-specific catalyst yang tidak bergantung pada commodity cycle.
- ITMG (NEUTRAL, TP IDR 26,000) — High-CV exposure memang menguntungkan saat Newcastle rally, dengan blended ASP naik dari USD 79.4/t di 1Q26 ke USD 84.0/t di 2Q26. Tapi stripping ratio 10-11x berarti cost structure sangat sensitif terhadap fuel economics. B50 implementation per Juli 2026 menciptakan uncertainty tambahan yang belum sepenuhnya bisa dikuantifikasi — terutama dampak terhadap fuel efficiency dan maintenance cost di operasi truck-intensive.
Pada akhirnya, alpha di sektor ini tidak lagi datang dari sekadar beli coal beta dan tunggu harga naik. Policy catalyst, earnings diversification, dan cash return story jauh lebih menarik dibanding spekulasi repeat of 2022 yang, secara struktural, memang tidak akan terjadi.