Persediaan minyak mentah AS turun 17 minggu berturut-turut — rekor terpanjang sejak 1982. SPR kini di level terendah sejak 1983. Ini implikasinya bagi pasar energi.
Ada sesuatu yang tidak biasa terjadi di pasar minyak AS. Persediaan minyak mentah total — gabungan cadangan pemerintah dan komersial — sudah turun selama 17 minggu berturut-turut, melampaui rekor sebelumnya yang bertahan di 16 minggu (Juli 2021). Ini adalah streak penurunan terpanjang dalam sejarah data yang dimulai sejak 1982.
Sejak awal April, total persediaan minyak mentah AS sudah berkurang 166 juta barel, dari level 712 juta barel. Angka ini bukan sekadar koreksi musiman biasa. Yang membuatnya lebih signifikan: penurunan ini terjadi dari dua sisi sekaligus.
Washington telah melepas 111 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) sejak Maret — sebuah intervensi besar-besaran yang dirancang untuk meredam tekanan harga. Tapi di saat yang sama, persediaan komersial (di luar SPR) juga ikut turun selama 10 minggu berturut-turut, menyamai rekor historis yang sebelumnya terjadi pada Januari 2018. Artinya, minyak yang dilepas pemerintah tidak sekadar berpindah ke tangki penyimpanan swasta — total buffer minyak mentah AS memang menyusut secara riil.
SPR sekarang berada di 305 juta barel, level terendah sejak 1983. Cadangan strategis ini dibangun sebagai firewall terhadap supply shock — namun dengan laju penarikan seperti ini, ruang manuver yang tersisa semakin sempit. Semakin dalam SPR terkuras, semakin mahal biaya politisnya untuk terus digunakan sebagai alat penekan harga.
Dari perspektif pasar energi, situasi ini memiliki beberapa implikasi yang perlu dipahami investor. Tight inventory secara historis menjadi katalis kuat untuk harga minyak yang lebih tinggi — terutama jika demand-side tidak ikut melemah. Jika penurunan persediaan komersial berlanjut tanpa ada recovery signifikan di sisi produksi atau perlambatan konsumsi, tekanan ke atas pada harga crude oil akan sulit dibendung hanya dengan pelepasan SPR lebih lanjut.
Untuk saham-saham di sektor energi, tight supply environment seperti ini secara umum mendukung profitabilitas produsen minyak — margin mereka cenderung ekspansif ketika harga spot tetap elevated. Sebaliknya, sektor yang sensitif terhadap biaya energi (transportasi, petrokimia, manufaktur) menghadapi tekanan margin yang lebih persisten dari yang mungkin sudah diprice-in pasar.
Yang menarik adalah bahwa rekor 17 minggu ini terjadi bukan dalam konteks embargo atau bencana alam skala besar, melainkan dalam kondisi pasar yang relatif berfungsi normal. Itu sendiri sudah cukup untuk menggambarkan seberapa ketat supply-demand balance minyak saat ini.