Cadangan minyak darurat Amerika Serikat, Strategic Petroleum Reserve (SPR), terus mengalami penyusutan signifikan. Rilis data terbaru menunjukkan SPR turun sebesar 3,8 juta barel dalam sepekan terakhir, membawa total cadangan ke angka 308 juta barel. Level ini merupakan yang terendah sejak Maret 1983.
Penurunan ini menandai consecutive weekly decline selama 18 minggu berturut-turut. Sepanjang periode drawdown ini, cadangan minyak strategis AS telah terpangkas sebesar 108 juta barel, atau setara dengan kontraksi 26%. Langkah intervensi pasar yang masif ini awalnya ditujukan untuk meredam gejolak harga energi domestik, namun kini meninggalkan risiko struktural baru seiring menipisnya energy safety buffer AS.
Tekanan pasokan tidak hanya terjadi pada cadangan pemerintah. Commercial crude oil stocks (di luar SPR) juga merosot tajam sebesar 7,2 juta barel menjadi 405 juta barel, level terendah sejak Oktober 2018. Angka inventori komersial ini berada sekitar 7% di bawah rata-rata lima tahun (5-year average) untuk periode yang sama.
Menyusutnya cadangan minyak di kedua lini ini menciptakan kondisi supply tightness yang nyata di pasar fisik. Dampak jangka panjang dari fenomena ini adalah hilangnya fleksibilitas kebijakan moneter dan fiskal AS dalam meredam inflasi energi. Dengan SPR yang mendekati titik nadir historis, kemampuan pemerintah untuk melakukan intervensi pasar (market intervention) melalui rilis cadangan tambahan di masa depan menjadi sangat terbatas.
Bagi pelaku pasar modal, situasi ini memberikan katalis positif bagi sektor energi, khususnya emiten produsen minyak mentah (upstream oil producers) yang diuntungkan oleh potensi pricing power yang lebih kuat. Namun di sisi makro, risiko terjadinya supply shock akibat tensi geopolitik di Timur Tengah atau kebijakan kuota produksi OPEC+ kini membawa upside risk yang lebih tinggi terhadap inflasi global. Jika harga minyak kembali melonjak, narasi higher-for-longer terkait suku bunga bank sentral global berpotensi kembali mengemuka.