Cha chaan teng, kafe khas Hong Kong yang lahir tahun 1950-an, kini berkembang pesat di London, Sydney, hingga New York — dibawa gelombang migran baru.
Ada banyak hal yang identik dengan Hong Kong — bintang film, industri sinema, aksi protes bersejarah, hingga warisannya sebagai pusat manufaktur dan keuangan global. Namun belakangan, ada satu elemen budaya Hong Kong lainnya yang perlahan merambah kota-kota besar di seluruh dunia: budaya diner-nya yang unik, yang dikenal dengan nama cha chaan teng.
Cha chaan teng adalah kafe tanpa basa-basi — no-frills, casual, dan egaliter. Konsep ini lahir di Hong Kong pada era 1950-an, di tengah perpaduan pengaruh Barat dan selera lokal yang khas. Alih-alih memilih satu identitas kuliner, cha chaan teng justru merangkul semuanya: menu mereka mencampur hidangan seperti spam sandwich, macaroni soup, hingga satay beef noodles — sebuah kombinasi yang hampir tidak akan Anda temukan di restoran Tionghoa konvensional mana pun.
Persilangan Budaya di Atas Piring
Salah satu elemen paling menarik dari menu cha chaan teng adalah keberadaan satay — bumbu yang sesungguhnya berakar dari Indonesia dan Asia Tenggara. Satay masuk ke Hong Kong melalui para pengungsi dari Provinsi Guangdong, Tiongkok, yang membawa serta tradisi kuliner dari wilayah yang lebih dekat secara geografis dengan Asia Tenggara. Dari sana, satay bertransformasi menjadi versi Hong Kong-nya sendiri: lebih kental, lebih gurih, dan disajikan bersama mi — bukan tusukan sate seperti yang kita kenal.
Inilah yang membuat cha chaan teng begitu representatif terhadap identitas Hong Kong secara lebih luas: ia adalah produk dari persilangan budaya yang terus bergerak, menyerap pengaruh luar dan mengolahnya menjadi sesuatu yang genuinely lokal.
Gelombang Migran Baru, Warung Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, seiring meningkatnya emigrasi warga Hong Kong ke luar negeri — terutama pasca-2019 — cha chaan teng mulai bermunculan di berbagai kota besar dunia. Sydney, New York, Toronto, dan kota-kota lain kini memiliki versi mereka sendiri dari kafe ikonik ini. Namun tidak ada tempat yang pertumbuhannya lebih pesat dibandingkan Inggris, khususnya London.
Salah satu contohnya adalah Po Kok di East London. Kafe ini menghadirkan estetika dan suasana cha chaan teng tradisional — dengan sentuhan baru yang disesuaikan untuk palidah lokal. Menu mereka menampilkan inovasi seperti char siu bagel dan tofu steak bun: perpaduan antara ikon street food Hong Kong dengan format makanan yang lebih familiar bagi warga London.
Lebih dari Sekadar Makanan
Bagi banyak pemilik cha chaan teng di luar Hong Kong, membuka kafe ini bukan sekadar bisnis kuliner. Ada dimensi identitas yang jauh lebih dalam. Di tengah perubahan politik yang signifikan di Hong Kong — di mana Beijing mengambil peran yang semakin assertive dalam tata kelola kota — banyak warga Hong Kong merasa identitas unik mereka perlahan terkikis.
Cha chaan teng, dalam konteks ini, menjadi semacam cultural anchor: ruang di mana komunitas diaspora Hong Kong bisa merayakan dan mempertahankan identitas mereka, sekaligus memperkenalkannya kepada dunia luar. Makanan, dalam hal ini, berfungsi sebagai bahasa universal yang melampaui batas geografis dan politik.
Fenomena ini bukan pertama kalinya terjadi dalam sejarah diaspora. Komunitas imigran dari berbagai penjuru dunia — Italia, Jepang, India — selalu membawa serta kuliner sebagai salah satu cara paling kuat untuk menjaga koneksi dengan tanah asal. Cha chaan teng hanyalah bab terbaru dari narasi panjang itu, dan tampaknya, bab ini baru saja dimulai.