LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

China Borong Emas Besar-Besaran di 2026

Ada yang menarik dari pola impor emas China dalam beberapa tahun terakhir: negara ini terus mengakumulasi emas dalam skala masif, bahkan ketika harga sedang tidak dalam kondisi terbaiknya. Di paruh pertama 2026, volume impor emas China kembali mendekati angka 800 ton — hampir menyamai puncak yang pernah dicapai di 1H 2024.

Untuk memberikan gambaran skala, impor China di bulan Juni saja setara dengan total produksi tambang bulanan dari 10 negara penghasil emas terbesar di dunia jika digabungkan. Itu bukan angka kecil.

Kalau dilihat trennya sejak 2021, lintasan impor ini cukup jelas. Dari sekitar 250–300 ton di 1H 2021, angkanya naik ke 350–400 ton di 2022, lalu melonjak signifikan ke 700–750 ton di 2023, dan mencapai puncaknya di atas 800 ton pada 1H 2024. Ada koreksi di 2025 ke kisaran 400–450 ton — kemungkinan besar dipengaruhi oleh kombinasi faktor harga dan kebijakan impor — sebelum kembali naik tajam di 2026.

Yang membuat pola ini semakin menarik adalah konteksnya: akumulasi ini terjadi bersamaan dengan tekanan pada harga emas, bukan ketika harga sedang rally. Ini bukan perilaku spekulatif jangka pendek. Ini terlihat lebih seperti pembelian strategis yang tidak terlalu sensitif terhadap harga jangka pendek.

Ada beberapa narasi yang bisa menjelaskan skala pembelian ini. Pertama, diversifikasi dari US dollar — China secara konsisten mengurangi eksposur ke aset berbasis dolar, dan emas adalah alternatif yang paling liquid dan universally accepted. Kedua, antisipasi terhadap sistem keuangan global yang semakin terfragmentasi, di mana settlement berbasis komoditas fisik bisa menjadi relevan kembali. Ketiga, penguatan strategic reserves secara menyeluruh — emas tetap menjadi aset cadangan yang tidak bisa di-sanction atau dibekukan oleh pihak lain.

Dari perspektif pasar, volume akumulasi sebesar ini dari satu negara memiliki implikasi struktural terhadap supply-demand emas global. Jika demand dari China tetap elevated di level ini, floor harga emas punya dukungan fundamental yang solid — terlepas dari fluktuasi jangka pendek yang didorong oleh sentimen makro atau pergerakan yield US Treasury.

Bagi investor, tren ini layak dijadikan salah satu data point dalam membangun thesis terhadap emas sebagai aset. Bukan karena China membeli, tapi karena skala dan konsistensi pembelian ini mengindikasikan adanya kalkulasi jangka panjang yang serius di baliknya.