China menambah 20 ton emas di Juli, pembelian terbesar sejak Oktober 2023. Total cadangan kini 2.366 ton — dan mereka beli justru saat harga turun.
Ada yang menarik dari pola pembelian emas China belakangan ini: bank sentral mereka justru accelerate pembelian di saat harga emas spot sedang slump dari puncaknya. Juli ini mereka menambah 20 ton — angka bulanan terbesar sejak Oktober 2023 — setelah 15 ton di Juni dan 10 ton di Mei. Total cadangan emas China kini menyentuh rekor 2.366 ton, hasil akumulasi 21 bulan berturut-turut tanpa jeda.
Year-to-date, tambahan sudah mencapai 60 ton. Bukan angka kecil, tapi yang lebih penting adalah timing-nya.
Harga emas spot sempat menembus di atas 4.500 $/oz di pertengahan 2026 sebelum kemudian pull back ke kisaran 3.500 $/oz. Di sinilah China justru memperbesar volume pembelian. Ini bukan perilaku spekulatif — ini strategic accumulation. Mereka tidak chase harga di puncak; mereka tambah posisi saat pasar koreksi.
Ada dimensi lain yang tidak bisa diabaikan: relokasi fisik cadangan emas dari London ke Hong Kong. Langkah ini bukan sekadar logistik. Hong Kong sedang membangun infrastruktur untuk menjadi global gold-trading and pricing hub, termasuk meluncurkan gold-clearing system baru. Dengan memindahkan cadangan fisik ke sana, China secara tidak langsung memperkuat ekosistem pasar emas di luar sistem Barat — sebuah langkah yang konsisten dengan narasi de-dollarization yang sudah berjalan beberapa tahun terakhir.
Dari sisi grafik cadangan, tren kenaikannya hampir linear sejak akhir 2022 — dari level sekitar 62 juta troy ounces hingga mendekati 76 juta troy ounces saat ini. Tidak ada tanda-tanda mereka akan berhenti. Bahkan koreksi harga yang cukup tajam pun tidak mengubah arah kebijakan.
Untuk investor, pola ini relevan sebagai sinyal jangka panjang. Ketika buyer sebesar bank sentral China konsisten menambah posisi di setiap dip, itu membentuk demand floor yang struktural — bukan jaminan harga naik terus, tapi setidaknya ada anchor permintaan yang tidak sensitif terhadap volatilitas jangka pendek. Berbeda dengan retail demand yang cenderung masuk di puncak dan panik di koreksi.
Pertanyaannya bukan apakah China akan terus beli emas — jawabannya sudah cukup jelas dari 21 bulan data berturut-turut. Pertanyaan yang lebih relevan: seberapa jauh relokasi ke Hong Kong akan menggeser pusat gravitasi pasar emas global dalam 5–10 tahun ke depan.