LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

China: Ekspor Meledak, Tapi Equity-nya Tetap Loyo

Ada paradoks menarik yang terus berulang dengan China: data makro terlihat cukup stabil, tapi equity market-nya konsisten underperform hampir semua peers global. Lima tahun terakhir (2020–2025), MSCI China mencatat annualized return yang jauh di bawah India, Taiwan, bahkan Emerging Markets secara agregat. Dan tren ini berlanjut di 2026 — China onshore dan MSCI China masih berada di kelompok bawah year-to-date.

Pertanyaannya bukan apakah China akan kolaps. Indikator frekuensi tinggi — PMI composite, aktivitas ekonomi berbasis konsumsi listrik dan mobilitas — sebetulnya tidak menunjukkan sinyal krisis mendalam. GDP deflator bahkan mulai naik setelah periode deflasi. Jadi bukan soal imminence of crisis. Masalahnya lebih struktural dari itu.

Model ekonomi China secara fundamental masih bertumpu pada produksi dan ekspor, bukan konsumsi domestik. Private investment stagnan, retail sales lemah, sektor properti masih dalam proses deleveraging panjang, dan household savings rate China tetap salah satu yang tertinggi di dunia — cerminan dari safety net sosial yang belum memadai, bukan dari kemakmuran. Kombinasi ini menciptakan excess manufacturing capacity yang kemudian di-dump ke pasar global dengan harga yang sulit dikompetisikan siapapun.

Dan angkanya tidak main-main. Di sektor baterai, kapasitas produksi China mencapai 2.830 GWh vs produksi aktual 890 GWh. Solar PV: kapasitas 1.045 GW vs produksi 587 GW. Electric cars: kapasitas 22 juta unit vs produksi 12 juta unit. Ini bukan overcapacity kecil-kecilan — ini adalah structural surplus yang akan terus menekan harga global selama bertahun-tahun ke depan, terlepas dari kondisi demand global.

Di sisi energi, China memang melakukan sesuatu yang luar biasa. Energy self-sufficiency naik dari 66% di 2019 menjadi 81% di 2025. EV share dari total fleet kendaraan penumpang China sudah mencapai escape velocity — satu-satunya pasar besar yang benar-benar reshaping oil demand secara material. Di H1 2026, EV China sudah menggantikan setara 6% dari total oil imports. Ekspor clean tech — baterai, solar PV, EV — melonjak tajam pasca invasi Rusia ke Ukraina dan terus accelerate.

Tapi di sinilah narasi "China memimpin transisi energi global" perlu dibaca lebih hati-hati. Coal consumption China belum turun — bahkan dalam absolute terms masih naik. Yang lebih mengejutkan: konsumsi batu bara China saja sudah melebihi total konsumsi energi dari negara-negara seperti AS, India, Rusia, Jepang, atau Eropa secara keseluruhan. Jadi rate of change memang impress, tapi base-nya masih sangat besar.

Untuk investor yang mencermati dampak ke pasar global, yang lebih relevan adalah efek limpahan (spillover) dari overcapacity China ini. Industri otomotif Eropa sudah merasakan tekanannya langsung — estimasi 350.000 pekerjaan terancam hilang di 2030 akibat cost disadvantage 35% vs produsen China. Ini bukan proyeksi spekulatif; 104.000 pekerjaan di sektor automotive Eropa sudah hilang di 2024–2025 dari nama-nama seperti ZF Friedrichshafen, Bosch, Continental, dan Schaeffler. Dari 16 pabrik baterai yang direncanakan di Eropa, 11 sudah delay atau dibatalkan.

Di kawasan ASEAN pun ceritanya serupa. Seiring meningkatnya impor manufaktur dari China sejak 2021, hampir semua negara ASEAN mengalami penurunan manufacturing share of GDP. Indonesia kehilangan 250.000 pekerjaan di sektor tekstil dan garmen di 2023–2024. Thailand melihat penutupan 4.000 pabrik kecil di berbagai sektor.

Yang membuat dinamika ini sulit diselesaikan secara pasar adalah subsidi. Sekitar 30% perusahaan industri China secara teknis tidak profitable, tapi tetap beroperasi karena didukung subsidi negara yang skalanya jauh melampaui negara manapun — mencapai lebih dari 1,5% dari GDP jika dijumlahkan semua instrumennya. Dalam kondisi normal, negative producer prices yang berkepanjangan akan memaksa konsolidasi kapasitas. Di China, mekanisme itu tidak bekerja dengan cara yang sama.

Dari perspektif investasi, semua ini menjelaskan mengapa Chinese equity sulit re-rate secara sustainable. Stimulus besar-besaran mungkin bisa mengangkat harga dalam jangka pendek, tapi tanpa rebalancing yang serius dari export-driven ke consumption-driven growth, fundamental story-nya tetap terbatas. Dan semakin banyak negara yang merespons dengan tariff barriers, anti-dumping investigations, serta kebijakan industrial policy defensif — yang pada akhirnya akan mempersempit ruang gerak ekspor China itu sendiri.