LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

CPO Rally 2H2026: Saham Sawit Malaysia Jadi Pilihan

Harga CPO futures menembus RM4.738/ton di Agustus 2026. El Niño, biodiesel B50, dan supply shock Indonesia jadi katalis utama rally sawit 2H2026.


Harga crude palm oil (CPO) futures sudah naik signifikan sepanjang tahun ini — dari RM4.056 per ton di Desember 2025 ke RM4.738 per ton pada sesi siang 11 Agustus 2026. Itu kenaikan sekitar 16,8% year-to-date, dan momentum ini belum terlihat akan berhenti dalam waktu dekat.

Beberapa katalis sedang bekerja bersamaan. Di sisi supply, USDA memangkas proyeksi produksi minyak sawit Indonesia untuk siklus 2026–2027 menjadi 47,2 juta ton. Angka ini bukan sekadar revisi teknis — ini mencerminkan dampak nyata dari kondisi cuaca yang memburuk. El Niño diperkirakan semakin menguat mulai Oktober, yang artinya yield dan produksi di Asia Tenggara berpotensi tertekan lebih jauh. Yang perlu diingat, dampak El Niño terhadap produksi sawit tidak langsung terasa — ada time lag yang berarti tekanan supply bisa berlanjut hingga 2027.

Di Indonesia, stockpiles diproyeksikan menyusut 28% YoY menjadi hanya 3,1 juta ton. Ini kombinasi dari produksi yang lebih rendah sekaligus permintaan domestik yang terdongkrak mandat biodiesel B50 — kebijakan yang secara struktural menyerap lebih banyak CPO dari pasar global.

Di sisi lain, gangguan geopolitik di Laut Hitam turut menekan ekspor sunflower oil dari Rusia dan Ukraina. Ketika suplai minyak substitusi berkurang, permintaan beralih ke palm oil — dan India sebagai salah satu importir terbesar sudah mulai menambah konsumsi menjelang musim festival.

Namun ada satu faktor yang menahan laju kenaikan lebih lanjut: stockpiles Malaysia di Juli 2026 tercatat 2,63 juta ton, melebihi ekspektasi pasar. Secara YoY, angka ini naik 24,3%. Produksi turun 1,1% dan penggunaan domestik anjlok 19,5%, tapi tidak cukup mengimbangi akumulasi stok yang terjadi. Inventaris yang tinggi ini menjadi ceiling alami bagi harga dalam jangka pendek.

Meski begitu, konsensus analis untuk sisa 2026 tetap di atas RM4.000/ton. Target yang lebih agresif berada di kisaran RM4.400–RM4.600/ton untuk jangka pendek, dengan asumsi rata-rata 2026 di RM4.450/ton dan 2027 di RM4.550/ton setelah revisi naik masing-masing RM50/ton. TA Securities sedikit lebih konservatif dengan asumsi RM4.300/ton untuk 2026, mengakui bahwa level inventaris saat ini masih membatasi upside secara teknikal.

Dari sisi ekuitas, saham-saham plantation Malaysia yang masuk radar saat ini adalah IOI Corporation (IOICORP), Kuala Lumpur Kepong (KLK), Hap Seng Plantations (HSPLANT), dan SD Guthrie (SDG). Keempatnya memiliki eksposur langsung ke pergerakan harga CPO, dan dalam skenario di mana supply shock berlanjut hingga 2027, earnings cycle sektor ini masih punya ruang untuk naik.

Intinya: supply side sedang tertekan dari berbagai arah secara bersamaan, demand side mendapat support struktural dari biodiesel mandate dan substitusi geopolitik, sementara stockpiles Malaysia yang tinggi menjadi satu-satunya rem yang masih bekerja. Keseimbangan ini cenderung bergeser ke arah harga yang lebih tinggi begitu stok mulai terserap — dan El Niño bisa menjadi pemicunya.