AI boom Indonesia bukan hanya soal server. Ini soal power, cooling, connectivity, dan siapa saja emiten yang duduk di rantai nilainya.
Ada kesalahpahaman besar soal AI boom: kebanyakan orang melihatnya sebagai cerita teknologi. Padahal ini adalah cerita infrastruktur. Setiap query AI yang dijalankan butuh GPU, GPU butuh power, power menghasilkan panas, panas butuh cooling, dan semua itu harus terhubung lewat fiber. Belum ada satu pun dari komponen itu yang bisa di-skip.
Indonesia sedang bergerak cepat di sini. Installed IT capacity saat ini berada di 580 MW, dan proyeksi 2030 menyentuh 3.5 GW — CAGR 56.7% dalam empat tahun. Angka itu bukan sekadar optimisme; ada pipeline konkret yang menopangnya. Greater Jakarta sendiri sudah punya 322 MW operational dengan pipeline 1.7 GW tambahan. Batam menyusul dengan 126 MW operational dan 1.4 GW pipeline, didorong proximity ke Singapura dan akses subsea cable.
Yang sering luput dari diskusi adalah bagaimana AI mengubah ekonomi data center secara fundamental. Traditional computing beroperasi pada density yang relatif rendah. GPU computing untuk AI workload jauh lebih padat — artinya lebih banyak power per rack, lebih banyak panas, dan cooling system yang jauh lebih kompleks. Evolusi dari air cooling ke liquid cooling hingga direct-to-chip bukan pilihan estetika; itu keharusan fisika. Power dan cooling pada akhirnya adalah satu persamaan ekonomi yang sama.
Dari sisi listed exposure, peta emiten cukup luas. Di sisi compute, DCII adalah pure-play dengan ~128 MW live capacity dan pipeline terbesar di antara emiten listed. TLKM lewat NeutraDC menargetkan 500 MW, sementara ISAT sudah punya power commitment ~1.2 GW lewat BDx dan inisiatif neo-cloud. DSSA bermain lebih kecil dengan ~40 MW existing.
Bottleneck pertama adalah power. Data center butuh listrik yang reliable, scalable, dan 24/7 — tidak ada kompromi. POWR, BREN, PGEO, dan ARKO adalah nama-nama yang duduk di jalur ini. DSSA juga masuk karena exposure energinya.
Bottleneck kedua sering diabaikan: connectivity. Data center tanpa konektivitas tidak lebih dari gudang berpendingin. Fiber backbone, internet exchange, subsea cable, dan cross-connect semuanya kritikal. TLKM dan ISAT mendominasi, tapi MORA, INET, EXCL, KETR, TOWR, dan MTEL punya eksposur masing-masing di lapisan ini.
MORA layak disebut tersendiri. Revenue 6M26 tumbuh 52.42% YoY ke Rp2.78 triliun, net profit naik 82.80% ke Rp312.36 miliar. Pertumbuhan operasionalnya solid. Tapi valuasi sudah berjalan jauh di depan: PER 401.47x dan PBV 13.41x. Pasar sudah memprice-in banyak hal — dan itu berarti margin of safety tipis untuk entry baru.
Lalu ada materials — dimensi yang paling sering terlupakan. Tembaga adalah backbone elektrikal: wiring, transformer, busbar. AMMN dan MDKA punya eksposur langsung. Aluminium masuk lewat cable, cooling, dan konstruksi — INAI dan ALMI relevan di sini. Nikel lebih ke arah battery dan backup power, jadi eksposurnya indirect: ANTM, INCO, NCKL, MBMA, NICL.
Untuk land dan konstruksi, lokasi data center bukan sembarang pilihan. Butuh kombinasi akses power, connectivity matang, low latency, dan ketersediaan air untuk cooling. DMAS, KIJA, SSIA, dan BEST bermain di kawasan industri, sementara TOTL di sisi konstruksi.
Intinya: AI boom Indonesia menciptakan demand shock yang menjalar ke seluruh rantai nilai — dari compute hingga tembaga. Yang menarik bukan hanya siapa yang paling obvious, tapi siapa yang duduk di bottleneck yang paling sulit digantikan.