Pelebaran defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) kembali menjadi hantu bagi stabilitas nilai tukar Rupiah. Defisit perdagangan yang bergeser ke teritori negatif pada periode Mei-Juni dipicu oleh satu faktor utama: lonjakan impor minyak. Defisit sektor migas yang membengkak dua kali lipat menjadi USD 3,5 miliar pasca-konflik AS-Iran memaksa proyeksi CAD pada kuartal kedua melebar hingga 3,2% dari PDB, melonjak tajam dibanding 1,1% pada kuartal pertama.
Kondisi ini menjelaskan mengapa tekanan terhadap Rupiah begitu kuat hingga sempat menyentuh level Rp18.171 per USD. Konsekuensinya, Indonesia harus lebih bergantung pada portfolio capital inflows untuk menambal defisit tersebut. Agar aset domestik tetap menarik di mata asing, yield obligasi negara harus dipertahankan tinggi. Saat ini, spread yield SBN 10 tahun menawarkan premium sekitar 300 bps di atas rata-rata negara peers di ASEAN, sebuah kompensasi risiko yang mahal namun krusial.
Di sisi lain, ada kabar baik dari jalur inflasi. Proyeksi headline inflation akhir tahun direvisi turun menjadi 3,1% yoy dari sebelumnya 3,4%. Perlambatan ini didorong oleh inflasi komponen bergejolak (volatile foods) yang mereda ke 2,5% yoy pada Juli, seiring dengan evaluasi dan penangguhan sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, penurunan harga RON 92 sebesar 1,8% oleh Pertamina turut meredam tekanan CPI, meskipun dampaknya tergolong transmisi minor.
Namun, kendali inflasi yang baik ini belum tentu mencerminkan daya beli yang kuat. Masalah struktural Indonesia terletak pada minimnya quality employment. Dalam lima tahun terakhir, harga pangan melonjak 22,9%, sementara upah minimum sektor formal hanya tumbuh 30,7%. Dengan pertumbuhan pendapatan riil yang sangat tipis, konsumsi domestik dipastikan akan terus menghadapi tantangan berat.
Upaya pemerintah mengamankan pasokan energi juga memakan biaya besar. Pembelian minyak alternatif dari Rusia sebesar 770 ribu barel pada Juni lalu tercatat di harga rata-rata USD 97 per barel—jauh di atas harga Brent yang saat itu berada di kisaran USD 84 per barel. Langkah mahal ini terpaksa diambil demi rencana memperluas cadangan minyak nasional dari 25 hari menjadi 90 hari ke depan.