LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Defisit Neraca Dagang Juni Menyusut Jadi $0,45 Miliar

Indonesia mencatatkan defisit neraca perdagangan sebesar USD 0,45 miliar pada bulan Juni. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan proyeksi konsensus ekonom yang memperkirakan defisit sebesar USD 780 juta. Realisasi yang lebih sempit ini didorong oleh kinerja ekspor yang melampaui ekspektasi pasar, meskipun laju impor juga tumbuh signifikan secara tahunan (year-on-year/y/y).

Nilai ekspor Indonesia pada Juni mencapai USD 25,46 miliar, tumbuh 8,84% y/y. Kinerja ini berada di atas batas atas estimasi konsensus ekonom yang berada di rentang -7,00% hingga +7,80%, dengan rata-rata perkiraan mengalami kontraksi sebesar 1,15%. Dari sisi sektoral, sektor pertambangan memimpin kenaikan dengan pertumbuhan sebesar 10,92% y/y, disusul oleh sektor manufaktur yang tumbuh 9,86% y/y. Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mengalami kontraksi sebesar 11,36% y/y.

Di sisi impor, total nilai pengapalan masuk mencapai USD 25,91 miliar, melonjak 34,27% y/y. Angka ini melampaui estimasi konsensus sebesar 23,30% dan berada dekat dengan batas atas proyeksi ekonom di level 32,79%. Peningkatan impor yang signifikan ini mengindikasikan kuatnya permintaan domestik, terutama untuk bahan baku dan barang modal guna mendukung aktivitas manufaktur dalam negeri.

Sepanjang semester pertama (1H), volume ekspor komoditas utama menunjukkan tren yang bervariasi. Ekspor crude palm oil (CPO) dan turunannya tercatat tumbuh 2,5% y/y menjadi 11,28 juta ton. Sebaliknya, ekspor batu bara terkontraksi sebesar 6,37% y/y menjadi 172,45 juta ton, yang mencerminkan adanya moderasi permintaan global serta normalisasi harga komoditas energi.

Secara keseluruhan, meskipun neraca perdagangan masih mencatatkan defisit, rilis data ini memberikan sinyal positif bagi fundamental ekonomi makro. Rebound ekspor yang kuat di sektor pertambangan dan manufaktur diharapkan mampu menopang pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) serta memberikan sentimen positif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah di pasar valuta asing.