Secara mengejutkan, Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,14% MoM pada Juli. Ini merupakan deflasi bulanan pertama sejak Januari, sekaligus membalikkan inflasi Juni yang berada di level 0,44% MoM. Angka ini juga jauh lebih rendah dibandingkan konsensus pasar yang memperkirakan inflasi tipis sebesar 0,08% MoM.
Pendorong utama deflasi ini adalah penurunan harga pada kelompok volatile food, khususnya komoditas bawang merah dan cabai merah. Kategori makanan, minuman, dan tembakau menyumbang penurunan sebesar 0,26 persentase poin. Selain itu, penurunan harga emas perhiasan serta penyesuaian harga BBM non-subsidi (seperti Pertamax Turbo dan Dexlite) ikut meredam inflasi dari sektor transportasi.
Secara tahunan, headline inflation melandai ke level terendah dalam tiga bulan terakhir di angka 2,88% YoY (vs 3,34% YoY pada Juni). Angka ini masih berada di dalam rentang target Bank Indonesia sebesar 1,5%–3,5%. Namun, jika dicermati lebih dalam, core inflation tidak bergerak di level 2,76% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli dan tekanan inflasi inti sebenarnya masih relatif stabil, bukan melemah secara struktural.
Di sisi lain, beberapa sektor justru mencatatkan kenaikan harga akibat faktor musiman. Kategori rekreasi naik 0,26% MoM dipicu oleh musim liburan sekolah, sementara sektor pendidikan melonjak 0,55% MoM karena dimulainya tahun ajaran baru.
Mengapa Tren Ini Hanya Sementara?
Napas lega dari deflasi ini diperkirakan tidak akan bertahan lama. Memasuki Agustus, inflasi berpotensi kembali rebound karena beberapa faktor risiko:
- Siklus Pendidikan: Dimulainya tahun ajaran baru tingkat universitas diproyeksikan akan kembali mengerek inflasi sektor pendidikan.
- Ancaman El Nino: Fenomena cuaca ini diperkirakan mengganggu produksi pertanian, berpotensi memicu lonjakan harga pangan (volatile food) kembali.
- Tekanan Energi Global: Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjaga harga minyak dunia tetap tinggi. Akibatnya, ruang untuk penurunan harga BBM non-subsidi menjadi sangat terbatas, bahkan ada risiko kenaikan jika harga minyak terus merangkak naik.
Bagi pasar modal dan kebijakan moneter, penurunan inflasi ini belum cukup kuat untuk mendorong Bank Indonesia memangkas BI-Rate secara agresif. Dengan proyeksi BI-Rate di level 5,75% untuk tahun ini dan rata-rata nilai tukar Rupiah yang diperkirakan berada di kisaran Rp17.400 per USD, BI tampaknya akan tetap mempertahankan sikap hawkish demi menjaga stabilitas nilai tukar daripada merespons deflasi musiman ini.