LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Dilema Inflasi AS: 64 Bulan di Atas Target Fed

US CPI inflation terus menunjukkan persistensi yang menantang kredibilitas bank sentral. Data terbaru menegaskan bahwa inflasi telah bertahan di atas target 2% yang ditetapkan Federal Reserve selama 64 bulan berturut-turut. Sejak Maret 2021, pasar belum pernah melihat satu pun rilis data inflasi tahunan AS yang berada di level atau di bawah 2.0%. Tren jangka panjang ini mengonfirmasi bahwa sticky inflation bukan lagi sekadar fenomena sementara, melainkan risiko struktural yang harus dihadapi pelaku pasar.

Upaya Fed Chair Warsh untuk meredam gelombang inflasi ini memicu pergeseran ekspektasi di pasar keuangan. Meskipun arah kebijakan moneter ditujukan untuk menekan laju kenaikan harga, pasar merespons dengan skeptisisme yang tercermin pada pergerakan pasar obligasi. Lonjakan yield obligasi pemerintah AS (US Treasuries) belakangan ini merefleksikan kecemasan mendalam terhadap prospek inflasi jangka panjang.

Kondisi ini menciptakan paradoks yang jarang terjadi di pasar keuangan. Di satu sisi, ketidakpastian makroekonomi berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Secara historis, situasi seperti ini akan memicu aksi flight to safety, di mana investor berbondong-bondong membeli obligasi pemerintah sebagai aset aman. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya: tidak ada yang menginginkan obligasi, memicu aksi jual massal yang mendorong yield ke level yang lebih tinggi.

Keengganan pasar untuk mengoleksi obligasi sangat beralasan. Dengan inflasi yang terus bertahan mendekati level 4% pada dinamika terbaru, memegang obligasi dengan yield tetap berisiko menghasilkan negative real yield. Investor menuntut inflation risk premium yang lebih tinggi untuk mengompensasi penurunan daya beli di masa depan.

Bagi pasar saham, fenomena surging yields ini merupakan hambatan besar. Kenaikan yield obligasi bebas risiko (risk-free rate) secara langsung akan meningkatkan cost of capital bagi emiten dan menekan valuasi saham-saham dengan multiplier tinggi, terutama sektor teknologi. Selama ekspektasi inflasi belum benar-benar jangkar di sekitar target 2%, tekanan di pasar obligasi dan volatilitas pasar saham diperkirakan akan tetap tinggi.