Dollar Index kini bertengger di sekitar 99.90 — level yang mencerminkan tekanan luas terhadap greenback dari hampir semua G10 currency. Bukan hanya satu faktor yang menekan, tapi tiga sekaligus: inflasi AS yang melandai, intervensi yen yang mengejutkan pasar, dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang terus memompa harga minyak.
Data CPI Juli menunjukkan kenaikan bulanan 0.1% — in line with expectations — dengan annual rate turun ke 3.4% dari 3.5% di bulan sebelumnya. Dampaknya langsung terasa: probabilitas Fed rate hike di September melorot ke 40% dari 54% seminggu sebelumnya berdasarkan CME FedWatch. Ini bukan sinyal dovish yang tegas, tapi cukup untuk meredam rally dolar yang sempat terjadi di Juni.
Satu hal menarik yang mulai masuk radar inflasi AS adalah apa yang disebut "chipflation" — kelangkaan memory chip akibat pembangunan masif AI data centers yang mendorong harga barang teknologi. Di CPI Juli, harga komputer dan peripheral naik 3.5% month-on-month. Ini bukan noise; ini bisa jadi structural pressure yang mempersulit Fed untuk deklarasi victory atas inflasi.
Sementara itu, yen menjadi currency paling dramatis bulan ini. Koordinasi intervensi antara Jepang, US Treasury, dan Korea Selatan di akhir Juli — yang pertama sejak 1998 — mendorong yen naik sekitar 5% dari level terendah 40 tahun di 163.99 ke 155.20. Tapi retracement terjadi cepat; USD/JPY kembali ke atas 159. Range tiga bulan terakhir: 155.21 hingga 163.88 — swing hampir sembilan figur yang menggambarkan betapa volatilnya pasangan ini.
Yang menarik dari intervensi kali ini adalah mekanismenya: Jepang menggunakan fasilitas FIMA milik New York Fed untuk meminjam dolar dengan collateral Treasury securities, bukan menjual cadangan langsung. Ini lebih stealth, tapi pasar sudah tahu. BOJ kini dipricing dengan probabilitas 76–78% untuk rate hike di September — naik drastis dari hanya 24% pada 30 Juli. Tekanan besar: kalau BOJ tidak eksekusi, yen bisa langsung balik ke level rendah.
Di sisi Eropa, ECB hampir pasti akan menaikkan deposit rate 25 bps ke 2.50% di September — 83% ekonom dalam survei memperkirakan demikian. Ini akan menjadi siklus pengetatan terpendek sejak 2011, sebelum jeda panjang yang diperkirakan berlangsung setidaknya hingga pertengahan 2027. Inflasi eurozone naik ke 2.9% di Juli, sebagian besar didorong oleh harga energi akibat konflik Iran-AS yang sudah berjalan enam bulan. Target 2% ECB diperkirakan baru tercapai di Q3 2027.
Pound sterling relatif resilient di 1.3491, ditopang data GDP UK yang tumbuh 0.4% di Q2 — membuat UK menjadi top performer G7 untuk dua kuartal berturut-turut dengan annualized growth 2% di first half 2026. Ada juga flow menarik: investor Jepang menambah posisi di UK gilts sebesar $1.5 miliar di Juni, terbesar sejak Oktober, tertarik oleh yield spread yang menguntungkan.
Untuk commodity currencies, AUD naik 2.1% ke 0.7076 setelah RBA mempertahankan rate di 4.35% tapi memberi sinyal kenaikan lanjutan masih "quite possible". NZD bahkan menjadi best performer G10 dengan kenaikan 2.3%. NOK memimpin rally Skandinavia dengan +3.0%, didorong Brent crude yang mendekati $89.
Ke depan, beberapa event krusial akan menentukan arah. Jackson Hole pada 28 Agustus menjadi momen paling ditunggu — ini akan menjadi pidato pertama Fed Chair Kevin Warsh di forum tersebut, dan pasar akan mencari kejelasan apakah dia benar-benar hawkish atau sekadar retorika. Keraguan atas kredibilitas hawkish-nya sudah berkontribusi pada sell-off di long-dated Treasuries.
Lalu ada PCE deflator pada 26 Agustus — preferred inflation measure Fed — yang bisa menjadi penentu final untuk keputusan September. Dan yang paling unpredictable: eskalasi di Selat Hormuz. Kalau akses terganggu serius, harga minyak bisa melonjak, yield AS naik, dan dolar bisa menguat jangka pendek karena safe-haven demand — tapi medium-term justru berisiko bearish kalau stagflation mulai menjadi narasi dominan.
Empat keputusan kebijakan moneter besar dalam empat hari di pertengahan September — Fed, ECB, BOJ, dan Bank of England — menjadikan bulan depan berpotensi sebagai periode paling volatile tahun ini untuk pasar forex global.