LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Dolar Melemah di Cadangan Global: Salah Emas?

Pangsa dolar dalam cadangan global turun ke ~40% bukan karena bank sentral buang Treasuries, tapi karena harga emas melonjak. Ini valuation effect, bukan de-dolarisasi.


Ada narasi yang sedang ramai beredar: dolar AS sedang ditinggalkan. Bank sentral dunia menjual Treasuries, beralih ke aset lain, dan dominasi greenback sedang runtuh. Faktanya, ceritanya jauh lebih sederhana — dan lebih membosankan dari itu.

Data IMF COFER mencatat pangsa dolar dalam allocated foreign exchange reserves masih di kisaran 57%. Stabil. Tidak ada crash, tidak ada exodus besar-besaran. Tapi jika metodologi dihitung ulang — dengan memasukkan cadangan emas dan menilainya menggunakan spot price — angkanya berubah drastis: pangsa dolar turun mendekati 40%, bahkan secara teknis sudah berada di bawah 50% untuk pertama kalinya di era modern.

Perbedaan ini bukan karena ada yang menjual dolar. Ini murni valuation effect. Harga emas melonjak tajam sejak 2024, dan karena bank sentral menahan kepemilikan emas mereka — bahkan terus menambah — bobot emas dalam total cadangan global otomatis membesar. Secara mekanis, pangsa dolar dan euro menyusut bukan karena mereka dijual, tapi karena penyebut (total nilai cadangan) membesar akibat repricing emas.

Ini yang disebut passive erosion. Tidak ada keputusan aktif untuk keluar dari dolar. Yang terjadi adalah price-insensitive sovereign bid for gold — bank sentral, terutama dari negara-negara berkembang, terus membeli emas terlepas dari harganya. Setiap kali risiko geopolitik meningkat, emas reprices upward, dan komposisi cadangan global ikut bergeser secara otomatis.

Konteks geopolitik saat ini memperparah dinamika ini. Penutupan efektif Selat Hormuz sejak awal Maret menambah tekanan pada risk sentiment global. Menariknya, meski terjadi guncangan sebesar itu, garis dolar hanya mencatat modest bounce — bukan rally yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa fungsi safe-haven dolar memang masih ada, tapi tidak sekuat dulu dalam mendominasi komposisi cadangan.

Yang perlu dipahami: tren ini tidak punya circuit breaker alami selama harga emas terus naik. Satu-satunya yang bisa membalikkan arah adalah penurunan harga emas yang berkelanjutan dan signifikan. Selama itu belum terjadi, angka pangsa dolar dalam cadangan global akan terus terlihat tergerus — meski bukan karena ada yang aktif membuang Treasuries.

Implikasinya bagi investor: jangan salah baca sinyal. Penurunan pangsa dolar versi metodologi ini bukan indikator timing untuk keluar dari aset dolar. Ini lebih merupakan cerminan dari betapa kuatnya momentum emas sebagai aset cadangan sovereign — dan seberapa besar eksposur ke emas sudah mengubah cara kita membaca peta cadangan global.