LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Dolar Melemah Saat Yield Treasury Mendekati 5%

Ada anomali menarik di pasar global saat ini: Bloomberg Dollar Spot Index turun dari puncaknya di sekitar 1.230 (April 2026) ke kisaran 1.200–1.210, padahal US 30-year Treasury yield justru merangkak naik mendekati 5%. Secara historis, yield tinggi seharusnya menarik modal masuk dan memperkuat dolar. Tapi yang terjadi sebaliknya.

Fenomena ini bukan tanpa konteks. Sebulan sebelumnya, terjadi joint currency intervention yang didukung AS untuk menstabilkan Yen Jepang — langkah yang langsung memunculkan pertanyaan: apakah intervensi semacam ini bisa menggerus status dolar sebagai dominant reserve currency?

Jawabannya, setidaknya dari perspektif Goldman Sachs, adalah tidak. Tim strategi mereka berargumen bahwa network effects, infrastruktur, dan kegunaan dolar tidak tertandingi oleh aset atau mata uang mana pun saat ini. Dua poin yang mereka soroti: pertama, peran aktif US Treasury dalam menjaga stabilitas pasar; kedua, keberadaan FIMA Repo Facility milik Federal Reserve yang memungkinkan bank sentral asing mengakses likuiditas dolar menggunakan US Treasuries sebagai agunan — tanpa harus menjual obligasi ke pasar terbuka.

Fasilitas ini penting, terutama bagi Jepang yang tercatat sebagai biggest foreign investor di pasar US Treasuries senilai $31 triliun. Tanpa FIMA Repo, tekanan untuk menjual Treasury secara masif bisa memperburuk volatilitas di pasar obligasi AS — sesuatu yang jelas tidak diinginkan semua pihak.

Tapi narasi "dolar tetap aman" tidak otomatis berarti dolar akan menguat dalam jangka pendek. Pergerakan Dollar Spot Index sepanjang September 2025 hingga Agustus 2026 menunjukkan fluktuasi yang cukup tajam, dan pelemahan terkini terjadi justru di tengah yield yang tinggi. Ini mengindikasikan ada faktor lain yang menekan dolar — kemungkinan kombinasi antara sentimen geopolitik, repositioning portfolio global, dan kekhawatiran fiskal AS sendiri.

Untuk investor lokal, dinamika ini relevan di beberapa sisi. Yield Treasury yang mendekati 5% membuat aset dolar semakin kompetitif secara risk-adjusted, yang bisa menekan capital flow ke emerging markets termasuk Indonesia. Di sisi lain, pelemahan dolar — jika berlanjut — memberi ruang bagi Rupiah untuk lebih stabil dan memberi BI fleksibilitas kebijakan yang lebih besar.

Yang perlu diperhatikan ke depan adalah apakah yield 30-year Treasury benar-benar tembus 5% secara sustained. Jika iya, tekanan terhadap valuasi aset berisiko global akan semakin nyata, dan pasar saham emerging markets biasanya yang pertama merasakannya.