LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

DSSA & BREN: HSC Tinggi, Risiko FTSE Nyata

DSSA sudah keluar dari FTSE Indonesia Large Cap. BREN menyusul? Dengan HSC di atas 95%, free float keduanya jauh di bawah standar minimum FTSE.


Dua saham dengan market cap jumbo di BEI kini menghadapi masalah struktural yang sama: holdings in shares closely held (HSC) yang ekstrem, dan konsekuensinya terhadap index eligibility FTSE Russell.

DSSA sudah merasakannya lebih dulu. Efektif 20 Juni 2026, saham Data Sinarmas ini dikeluarkan dari FTSE Indonesia Large Cap — bukan karena kinerja bisnis, bukan karena fundamental, tapi semata karena HSC-nya yang mencapai 95,76%. Dengan free float hanya sekitar 4,24%, DSSA tidak memenuhi kriteria minimum kepemilikan publik yang disyaratkan FTSE Russell. Hasilnya: passive fund outflow, risiko underweight oleh ETF global, dan saham yang sudah turun 24,29% secara YTD per 18 Agustus 2026 di harga 7.350.

Yang lebih menarik diperhatikan sekarang adalah BREN. Barito Renewables Energy punya HSC bahkan lebih tinggi — 97,31% — dengan free float yang hanya tersisa ~2,69%. Market cap-nya Rp 342 triliun, hampir dua setengah kali lipat DSSA, tapi sahamnya juga sudah terkoreksi 12,39% YTD di harga 9.800. Review FTSE berikutnya dijadwalkan September 2026, dan dengan struktur kepemilikan yang tidak berubah, skenario yang dialami DSSA sangat mungkin terulang.

Perlu dipahami: HSC tinggi bukan otomatis berarti keluar dari indeks, tapi HSC setinggi ini — di atas 95% — praktis menutup pintu untuk lolos kriteria minimum free float FTSE. Threshold yang realistis untuk kembali masuk atau bertahan adalah HSC di bawah 85%, idealnya 75% ke bawah. Artinya, baik Sinarmas Group maupun Barito Group perlu melakukan aksi korporasi nyata: secondary offering, divestasi sebagian kepemilikan, atau mekanisme lain yang secara material menaikkan porsi publik.

Dari sisi bisnis, keduanya sebenarnya punya cerita yang kuat. DSSA bermain di segmen data center dan cloud yang sedang dalam fase ekspansi, didukung ekosistem Sinarmas yang terintegrasi. BREN adalah operator geothermal terbesar di Indonesia dengan cadangan kapasitas yang diklaim terbesar di dunia — segmen energi terbarukan yang secara tematik relevan untuk investor ESG global. Ironisnya, justru karena kepemilikan terlalu terkonsentrasi di tangan grup, akses investor institusional global menjadi terbatas.

Bagi investor yang sudah holding salah satu dari keduanya, variabel yang perlu dipantau bukan lagi laporan keuangan kuartalan, melainkan perkembangan struktur kepemilikan dan ada tidaknya sinyal dari manajemen grup soal rencana peningkatan free float. Tanpa perubahan di sisi itu, tekanan dari index fund rebalancing dan minimnya partisipasi dana asing akan terus menjadi overhang yang sulit diabaikan.