DSSA mulai mengalihkan hingga 9,63 miliar saham treasuri dengan cost basis Rp194,61 di harga pasar Rp970. Apa implikasinya bagi investor?
PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) resmi memulai pengalihan saham treasuri sejak 10 Agustus 2026 — hampir tiga tahun setelah buyback besar-besaran di periode Agustus–September 2023. Jumlah yang akan dilepas maksimal 9,63 miliar saham, setara 5% dari total saham yang diterbitkan, dari total posisi treasury sebesar 37,91 miliar saham (19,68% dari total outstanding).
Yang menarik bukan sekadar volumenya, tapi strukturnya. Buyback 2023 dilakukan sebanyak 154,1 juta saham dengan total nilai Rp7,4 triliun — rata-rata sekitar Rp48.000 per saham. Setelah dua kali stock split (1:10 di Juli 2024 dan 1:25 di 2026, total efek 1:250), adjusted cost basis turun menjadi sekitar Rp192 per saham. Bloomberg mencatat average cost basis saat ini di angka Rp194,61.
Dengan harga pasar per 12 Agustus 2026 di level Rp970, spread antara cost dan market price sudah mencapai +398%, atau hampir 5x lipat. Secara indikatif, jika seluruh 9,63 miliar saham dialihkan di harga pasar saat ini, nilai brutonya mencapai sekitar Rp9,34 triliun — angka yang tidak kecil, meski angka aktual proceeds bergantung pada harga realisasi transaksi.
Preseden sebelumnya ada: pada Agustus 2024, DSSA sudah pernah menjual 24,8 juta saham treasuri senilai Rp794 miliar, rata-rata di Rp32.000 per saham (atau ekuivalen ~Rp4.800 post-split 1:10 saat itu), yang berarti sekitar 6,67x di atas adjusted cost. Artinya, manajemen sudah terbiasa memanfaatkan spread ini secara oportunistik.
Dari sisi regulasi, POJK 29/2023 mewajibkan pengalihan saham hasil buyback dalam maksimal tiga tahun sejak selesainya pembelian kembali. Buyback DSSA selesai 15 September 2023, sehingga deadline pengalihan jatuh di sekitar September 2026 — tepat sebelum RUPSLB yang dijadwalkan 10 September 2026. Timing ini bukan kebetulan.
Soal pricing, regulasi memberi ruang diskon maksimal 7,5% dari rata-rata harga penutupan 90 hari terakhir untuk transaksi di pasar negosiasi. Namun harga pengalihan tidak boleh lebih rendah dari rata-rata harga buyback. Dengan cost basis yang sangat rendah, floor price ini secara praktis tidak menjadi hambatan.
Dari perspektif investor, ada beberapa hal yang layak dimonitor. Pertama, supply overhang: 9,63 miliar saham adalah jumlah besar. Seberapa cepat pasar bisa menyerapnya akan memengaruhi tekanan jual pada harga. Kedua, capital allocation — ke mana proceeds ini dialokasikan? Apakah untuk ekspansi, deleveraging, atau keperluan lain yang akan dibahas di RUPSLB September. Ketiga, apakah pengalihan dilakukan bertahap di pasar reguler atau sekaligus lewat pasar negosiasi kepada investor tertentu — keduanya punya implikasi berbeda terhadap price discovery.
DSSA sedang mengeksekusi treasury monetization dalam skala yang jarang terjadi di pasar domestik. Hasilnya bergantung pada eksekusi dan kondisi pasar, tapi dari sisi struktur biaya, DSSA bermain dengan margin yang sangat lebar.