LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Earnings +30% Tapi Pasar Masih Volatile: Ada Apa?

Ada satu anomali menarik yang terjadi di pasar global sepanjang 2026: earnings korporasi tumbuh luar biasa kuat — sekitar 27% year-over-year di Q1, dan sedikit di atas 30% di Q2 (excluding dua platform Tech terbesar) — namun equity valuations justru turun, bukan naik. Ini bukan kesalahan baca. Harga saham bergerak lebih lambat dari pertumbuhan earnings, sehingga multiple compression terjadi secara alami. Hasilnya? Starting point valuasi ekuitas global saat ini terlihat lebih atraktif dibanding beberapa tahun terakhir.

Earnings growth yang solid ini sebagian besar didorong oleh AI-related spending, productivity gains, dan adopsi AI yang mulai merambah ke berbagai sektor. Bukan hanya cerita satu atau dua nama besar — ini lebih broad-based dari yang banyak orang bayangkan.

Di sisi aset lain, Brent crude memimpin return year-to-date di angka 54,1% — didorong supply constraint akibat konflik Timur Tengah. Ekuitas Asia yang AI-focused naik 22,7%, US equities 13,1%, dan European markets rebound 11,6%. Tapi meski return positif, sebagian besar indeks masih di bawah high 2026 mereka — menggambarkan betapa volatilnya perjalanan ke sana.

Sementara itu, credit market bercerita berbeda. Spread sudah berada di multi-decade tights, valuasi credit mendekati persentil ke-96 secara historis. Dibandingkan global equities yang ada di sekitar persentil ke-75, investor credit saat ini tidak mendapatkan kompensasi yang memadai atas risiko yang mereka ambil. Ini bukan kondisi yang menarik untuk menambah exposure di fixed income credit.

Treasury juga bergejolak tajam — volatilitas di sisi ini lebih banyak disebabkan oleh rising budget deficits dan pergeseran perilaku bank sentral global yang mulai memperbesar alokasi ke emas sebagai pengganti long-dated Treasury holdings. Ini bukan tren kecil; ini structural shift yang layak diperhatikan.

Soal private equity: spread antara return private dan public equity sudah terkompresi ke sekitar 100 basis points sejak akhir 2025. Tapi kalau dilihat dalam rolling 10-tahun, private equity masih membukukan rata-rata annualized return 13,7% vs 8% untuk global public equity — dengan keduanya membukukan positive return di 100% rolling periods. Yang penting dicatat: dispersi antar manager di private equity sangat besar. Index-level return tidak mencerminkan apa yang investor rata-rata dapatkan. Manager selection di sini jauh lebih krusial dibanding di public markets.

Dari sisi positioning, ada beberapa hal yang saat ini terlihat masuk akal:

  • Underweight duration — inflasi di banyak advanced economy masih di atas target, dan bank sentral punya alasan untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Duration bukan tempat yang nyaman sekarang.
  • Overweight equities, dengan preferensi ke perusahaan yang punya earnings driver yang jelas dan balance sheet yang solid.
  • Overweight gold — bukan sekadar safe haven klasik, tapi sebagai diversifier yang genuine di saat duration tidak lagi konsisten memainkan peran balancing-nya dalam portfolio.
  • Thematically: AI supply chain, cybersecurity, energy infrastructure, dan natural resources masih menjadi area yang konstruktif.

Satu hal yang perlu diingat: credit yang mahal, Treasury yang volatile, dan earnings yang kuat tapi belum sepenuhnya tercermin di harga — kombinasi ini menciptakan environment di mana equity risk justru terlihat lebih menarik secara relatif. Bukan karena market sedang euforia, tapi justru karena kekhawatiran yang terus berulang sepanjang tahun ini telah menjaga valuasi tetap reasonable.