LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Efek Makan Gratis: Kenapa Saham ULTJ & CMRY Meroket?

Sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) mencatatkan kinerja solid pada kuartal kedua tahun ini. Pendorong utamanya bukan sekadar pemulihan daya beli organik, melainkan derasnya stimulus pemerintah yang mengalir langsung ke daerah-daerah penunjang (lower-tier cities). Program makanan gratis, penguatan koperasi desa, dan anggaran ketahanan pangan menjadi katalis kuat yang mendongkrak konsumsi di tingkat akar rumput.

Sektor produk susu (dairy) menjadi bintang utama. Emiten seperti ULTJ, CMRY, KEJU, dan ICBP menikmati berkah langsung sebagai penyuplai rantai pasok program makanan gratis. Pertumbuhan pendapatan (revenue growth) segmen dairy melonjak rata-rata hingga 56% secara tahunan (y-y) di kuartal kedua, jauh melampaui rata-rata pertumbuhan FMCG keseluruhan yang berada di kisaran 14%. Kenaikan volume penjualan ini menjadi penahan beban kenaikan harga bahan baku (raw material costs), sehingga emiten tetap mampu membukukan pertumbuhan EBIT dua digit.

Tidak hanya susu, perputaran uang di tingkat bawah juga memicu pemulihan konsumsi produk luar rumah (out-of-home products). Saham minuman seperti CLEO dan MLBI mencatat pertumbuhan top-line yang kuat. Sementara itu, di industri tembakau, emiten seperti WIIM dan HMSP menikmati ekspansi margin berkat kenaikan harga jual rata-rata (ASP) di tengah kenaikan cukai yang relatif moderat. Di sisi lain, MYOR diuntungkan oleh eksposur ekspor yang besar, menghasilkan forex gains signifikan yang mempertebal bottom-line.

Memasuki paruh kedua tahun ini, tren pertumbuhan ini diperkirakan masih akan berlanjut. Fokus pemerintah untuk menjaga stabilitas inflasi energi dan bahan pangan pokok akan menjaga daya beli tetap stabil. Meskipun anggaran program makanan gratis mengalami penyesuaian, total realisasi belanja tahun ini masih jauh lebih tinggi dibanding tahun lalu. Merek-merek besar diproyeksikan tetap mendominasi pasokan karena keterbatasan kapasitas produsen skala kecil.

Dari sisi operasional, biaya kemasan (packaging costs) diperkirakan mulai mereda, memberikan ruang bagi emiten untuk membangun inventori kemasan dengan harga lebih murah pada kuartal ketiga. Selain itu, ada potensi front-loading aktivitas distribusi pada kuartal keempat guna mengantisipasi musim Lebaran yang jatuh lebih awal di tahun berikutnya.

Secara keseluruhan, preferensi investasi lebih condong pada emiten dengan potensi pertumbuhan volume yang kuat untuk menggerakkan laba bersih. ULTJ, CMRY, dan MYOR tetap menjadi pilihan utama di sektor ini. Kendati demikian, risiko likuiditas saham yang relatif lebih rendah dibanding sektor perbankan atau komoditas tetap perlu diwaspadai sebagai bagian dari downside risk.