LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Ekspor RI Rebound, Tapi Mengapa Neraca Dagang Defisit?

Pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal kedua diperkirakan melambat ke level 5,00% YoY. Perlambatan ini dipicu oleh melemahnya domestic demand pasca-musim perayaan di kuartal pertama, serta tekanan yang masih berlanjut pada kinerja perdagangan luar negeri. Meskipun ekspor Juni sempat rebound mengejutkan sebesar 8,84% YoY—jauh melampaui konsensus pasar—lonjakan impor yang mencapai 34,27% YoY membuat neraca perdagangan kembali mencatat defisit bulanan kedua berturut-turut. Secara kumulatif, neraca perdagangan kuartal kedua menyusut menjadi defisit USD 1,97 miliar, berbanding terbalik dengan surplus USD 5,55 miliar di kuartal sebelumnya.

Di paruh kedua tahun ini, prospek ekspor akan sangat bergantung pada dinamika komoditas yang cenderung divergent. CPO memiliki prospek struktural paling solid berkat implementasi mandat biodiesel B50. Kebijakan ini mendongkrak konsumsi domestik menjadi 16,3–17,0 juta ton per tahun. Efeknya, exportable supply menyusut, yang secara tidak langsung menjaga level harga CPO global tetap kuat meskipun volume ekspornya akan terbatas. Sementara itu, batu bara masih menjadi penopang utama jangka pendek. Target produksi nasional yang lebih konservatif di angka 600 juta ton lewat pengetatan persetujuan RKAB membantu menjaga stabilitas harga di tengah tingginya permintaan musiman dari Asia.

Di sisi lain, nikel masih menghadapi tantangan berat akibat global oversupply yang persisten. Meskipun pemerintah memperketat kuota RKAB untuk kebutuhan smelter domestik, kapasitas pemurnian yang melimpah terus menekan harga global, sehingga pemulihan volume ekspor nikel tidak akan berdampak signifikan pada export earnings. Selain itu, bayang-bayang kebijakan tarif US Section 301 pada rantai pasok energi bersih dan mineral kritis terus menciptakan ketidakpastian global, meskipun dampaknya terhadap makroekonomi domestik dinilai masih manageable berkat diversifikasi pasar ekspor Indonesia.

Pada akhirnya, kinerja ekspor Indonesia ke depan tidak lagi hanya disetir oleh external demand, melainkan lebih dipengaruhi oleh kebijakan supply management domestik seperti hilirisasi, DMO, dan regulasi ekspor yang ketat. Investor perlu mencermati emiten berbasis CPO dan batu bara yang diuntungkan oleh dinamika harga ini, sembari tetap waspada terhadap tekanan margin pada sektor nikel.