Kinerja perdagangan luar negeri Indonesia mencatatkan positive surprise pada Juni 2026. Ekspor tumbuh 8,84% YoY ke angka USD 25,46 miliar, berbanding terbalik dengan estimasi konsensus yang memproyeksikan kontraksi sebesar -1,15% YoY. Pertumbuhan ini juga menandai pemulihan signifikan dari periode sebelumnya yang terkoreksi -5,73% YoY.
Akselerasi ekspor ditopang oleh sektor pertambangan yang tumbuh 10,92% YoY, didorong oleh peningkatan pengiriman bijih logam. Sektor industri pengolahan (manufaktur) mengekor dengan kenaikan 9,86% YoY, sejalan dengan indeks PMI Manufaktur yang kembali masuk ke zona ekspansif di level 50,2. Sebaliknya, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih mencatatkan kinerja minor dengan kontraksi -11,36% YoY.
Di sisi lain, impor melonjak 34,27% YoY menjadi USD 25,91 miliar, melampaui estimasi konsensus di level +23,30% YoY. Meskipun lonjakan impor ini menjaga neraca perdagangan tetap berada di area defisit sebesar USD 0,45 miliar, angka defisit ini jauh lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan defisit hingga USD 0,78 miliar. Struktur impor yang didominasi oleh barang modal, bahan baku industri, dan mesin produksi mengindikasikan ekspansi aktivitas manufaktur domestik dan peningkatan investasi riil.
Untuk komoditas strategis sepanjang Semester I 2026, volume ekspor CPO (Crude Palm Oil) mencapai 11,28 juta ton, tumbuh tipis +2,5% YoY. Sementara itu, volume ekspor batu bara mencatatkan penurunan -6,37% YoY menjadi 172,45 juta ton.
Secara sektoral, rilis data perdagangan ini memberikan katalis positif bagi beberapa industri:
- Mining & Manufacturing: Kenaikan ekspor logam dan ekspansi PMI manufaktur memperkuat prospek pendapatan emiten di sektor ini.
- Shipping & Logistics: Lonjakan volume perdagangan berpotensi mendorong utilisasi kapal kargo dan aktivitas logistik pelabuhan.
- Banking: Tingginya impor barang modal membuka ruang bagi peningkatan loan growth untuk pembiayaan investasi korporasi.
Ditambah dengan inflasi domestik yang melambat ke level 2,88% YoY, menyusutnya defisit perdagangan ini memberikan sentimen positif bagi pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.