El Niño memukul logistik batu bara Kalimantan. ADMR dan ITMG terekspos berbeda — ini implikasinya untuk investor.
Kalimantan menyumbang sekitar 80% produksi batu bara Indonesia, atau hampir 40% dari pasar ekspor batu bara termal global. Ketika El Niño memicu kebakaran hutan masif di pulau ini dan menurunkan ketinggian air Sungai Barito dan Sungai Mahakam, dampaknya bukan sekadar isu lingkungan — ini langsung menyentuh volume penjualan dan earnings dua emiten batu bara utama: ADMR dan ITMG.
ADMR adalah yang paling terekspos secara logistik. Sungai Barito adalah jalur utama pengangkutan batu bara dari mining pit ke intermediate stockpile (ISP), lalu ke Taboneo Anchorage dan Indonesia Bulk Terminal. Ketika sungai menyurut, kapasitas angkut turun, dan volume penjualan 3Q26 berpotensi terkoreksi secara quarter-on-quarter. Risiko ini diperkirakan berlanjut sepanjang 2H26. Setiap penurunan volume 10% pada segmen met coal ADMR akan memangkas EPS sekitar 8% — angka yang tidak kecil, terutama jika gangguan berlangsung lebih dari satu kuartal.
Namun pasar tampaknya sudah mulai price in potensi positif lain: revisi kuota produksi (RKAB) ADMR tahun 2026 yang dijadwalkan diumumkan akhir Agustus. Ini yang sebagian menjelaskan mengapa ADMR menguat +8% dalam sepekan terakhir, jauh di atas JCI yang naik +4% — padahal harga aluminium justru turun -5% dalam periode yang sama. Smelter aluminium 500 ktpa milik ADMR memang menambah lapisan valuasi, tapi pergerakan minggu ini lebih didorong sentimen batu bara.
ITMG situasinya berbeda. Tambang Trubaindo dan Bharinto yang menyumbang 60% dari total volume ITMG memang melewati jalur Sungai Mahakam — yang belum terdampak signifikan sejauh ini. Tambang Indominco, yang berkontribusi 30–35% dari volume, relatif aman karena lokasinya dekat pelabuhan laut dan tidak bergantung pada transportasi sungai. Tapi jika El Niño menguat hingga akhir 2026 dan berlanjut ke musim semi 2027, Sungai Mahakam bisa menjadi bottleneck berikutnya. Sensitivitas EPS ITMG terhadap volume bahkan sedikit lebih tinggi — setiap perubahan 10% volume berdampak 10% pada EPS.
Di sisi permintaan, gambaran makro justru supportif. Produksi batu bara domestik China turun -10% year-on-year pada Juni–Juli, sementara permintaan impor melonjak +20–30% y/y. Harga batu bara Indonesia kalori 4.200 kcal sudah rebound +5% month-to-date. El Niño yang memangkas pasokan Kalimantan di satu sisi, sekaligus mendorong konsumsi listrik lebih tinggi di sisi lain, menciptakan tekanan ganda yang mendukung harga jangka pendek.
Satu hal yang perlu dicatat dari sisi margin: kenaikan harga batu bara di 2Q26 sebagian besar ter-offset oleh lonjakan biaya diesel dan bauran DMO yang kurang menguntungkan. Artinya, revenue upside dari harga yang lebih tinggi tidak otomatis langsung mengalir ke bottom line.
Untuk ADMR, dengan proyeksi FCF yield 2027 di level 16% — menggunakan asumsi harga aluminium $3.100/mt dan met coal $230/mt — valuasi terlihat menarik jika gangguan logistik memang hanya bersifat sementara. Strategi buy into weakness masuk akal bagi investor yang percaya bahwa risiko volume 3Q26 sudah cukup tercermin di harga, dan bahwa RKAB bisa menjadi katalis positif berikutnya.