LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ELSA: Seismic Backlog Rp1T Siap Meledak di 2H26

Kalau melihat performa 1H26 Elnusa (ELSA) secara sekilas, mungkin terlihat biasa saja — gross margin sedikit tertekan, upstream revenue turun 10,7% yoy. Tapi justru di situlah letak menariknya: penurunan itu bukan karena bisnis memburuk, melainkan karena timing recognition yang belum tiba.

Revenue 1H26 naik 8,9% yoy ke Rp7,58 triliun, EBITDA tumbuh 16,2%, dan net profit melonjak 29,2% ke Rp435 miliar. Growth driver utamanya adalah segmen distribusi dan logistik — revenue naik 26,6% yoy, net profit segmen ini tumbuh 54,4%. ELSA mengoperasikan 2.400–2.500 tanker, sekitar 800–900 di antaranya milik sendiri, dan berencana menambah 48 tanker baru untuk mengantisipasi permintaan yang lebih tinggi di luar Jawa, terutama Kalimantan dan Sumatra.

Yang lebih menarik adalah cerita di balik segmen upstream yang seolah tertahan. Beberapa proyek seismik menanggung mobilisation cost di 1H26, sementara revenue-nya baru bisa diakui setelah contractual milestone tercapai — biasanya ada lag dua sampai tiga bulan antara pencatatan biaya mobilisasi dan invoicing begitu aktivitas recording dimulai. Seismic backlog saat ini masih di atas Rp1 triliun, mencakup proyek offshore dan onshore seperti Kendahulu, Merak Corridor, Manggar atau Juata, dan Tedong. Sebagian proyek prospektif berpotensi dikonversi jadi kontrak di 2H26, sisanya baru mulai 2027.

Artinya, 2H26 adalah periode di mana beban sudah ditanggung, tapi revenue-nya belum tercatat — dan sekarang giliran pencatatan itu datang. Total contract backlog ELSA per akhir Juni 2026 tercatat Rp18,8 triliun, setelah new contracts Rp11,6 triliun masuk dan Rp14,4 triliun terserap di 1H26. Angka ini memberikan visibility yang cukup solid untuk 2H26 dan 2027.

Di luar seismik, ada beberapa growth initiative yang layak diperhatikan:

  • Chemical EOR — ELSA mulai aktivitas enhanced oil recovery di Rama field sejak Juni 2026, dengan potensi ekspansi ke area Minas (Pertamina Hulu Rokan) yang sudah mulai onstream Juli 2026.
  • Fuel & LPG infrastructure — pengembangan Palaran fuel terminal dan Kolaka LPG terminal sedang berjalan.
  • Ekspansi internasional — fokus ke Algeria, Libya, India, dan beberapa negara Asia Tenggara.
  • Masela project — ELSA berpotensi terlibat dalam drilling-related services, wireline logging, cementing, dan production testing, tergantung koordinasi dalam Pertamina group.

Dari sisi valuation, ELSA saat ini diperdagangkan di P/E 5,7x untuk FY26F dan EV/EBITDA hanya 2,1x — angka yang sangat murah untuk perusahaan dengan backlog Rp18,8 triliun dan net cash position yang solid. Dividend yield FY26F diproyeksikan 8,8%, dan ada potensi naik ke 7,6%+ jika payout ratio dinaikkan dari 40% ke 50%. Buyback Rp100 miliar yang berjalan Agustus–November 2026 juga memberikan downside support di level harga saat ini.

Net profit FY26F diproyeksikan Rp869 miliar (+21,3% yoy), dengan trajectory yang terus menanjak ke Rp1,06 triliun di FY27F dan Rp1,23 triliun di FY28F. ROE yang sebelumnya hanya 6,6% di 2024 diproyeksikan meningkat ke 15,6% di FY26F — sebuah lompatan yang mencerminkan perbaikan earnings mix dan efisiensi capital.

Risiko utama yang perlu dimonitor: keterlambatan konversi backlog seismik menjadi kontrak aktif, serta potensi cost overrun di proyek infrastruktur baru. Tapi dengan struktur backlog yang sudah ada dan beberapa catalyst konkret di 2H26, ELSA tampak jauh lebih menarik dari yang terlihat di angka 1H26-nya saja.