Emas sedang menjalani bull market ketiga dalam 50 tahun terakhir. Apa yang mendorongnya dan seberapa jauh harga bisa naik?
Kalau dilihat dari perspektif jangka panjang, perjalanan harga emas selama 50 tahun terakhir bukan sekadar naik-turun acak. Ada pola siklus yang jelas — tiga fase bull market besar, diselingi dua periode koreksi panjang yang masing-masing berlangsung hampir satu dekade atau lebih.
Bull market pertama terjadi di era 1970-an, dipicu oleh runtuhnya sistem Bretton Woods dan inflasi yang melonjak pasca krisis minyak. Ketika emas tidak lagi terikat pada nilai dolar secara fixed, harganya meledak bebas — naik dari level yang sangat rendah ke puncak sekitar 1980. Ini bukan sekadar rally komoditas; ini adalah repricing fundamental dari aset yang sebelumnya dibekukan secara artifisial oleh sistem moneter.
Setelah puncak 1980, emas masuk ke bear market panjang selama dua dekade penuh — era di mana kepercayaan terhadap fiat money kembali menguat, inflasi dikendalikan oleh kebijakan moneter ketat, dan ekuitas menjadi primadona. Emas kehilangan daya tariknya.
Bull market kedua dimulai sekitar 2001, seiring commodity supercycle yang didorong oleh pertumbuhan ekonomi global — terutama industrialisasi besar-besaran Tiongkok. Emas naik konsisten hingga 2011/2012, sebelum akhirnya terkoreksi ketika siklus komoditas mulai kehabisan tenaga. Fase koreksi dan recovery setelahnya berlangsung hampir 12 tahun, dengan harga bergerak sideways hingga akhirnya kembali mendekati level puncak sebelumnya.
Yang menarik adalah apa yang terjadi sejak akhir 2023. Harga emas tidak hanya menyentuh kembali level tertinggi lama — tapi melakukan breakout ke atas dengan momentum yang signifikan. Pada skala logaritmik jangka panjang, pergerakan ini tampak sebagai awal dari bull market ketiga.
Pertanyaannya: apa yang menggerakkan fase ini? Tidak ada satu jawaban tunggal. Beberapa faktor struktural yang sering disebut antara lain pembelian emas besar-besaran oleh bank sentral berbagai negara — terutama dari emerging markets yang ingin mendiversifikasi cadangan devisa mereka keluar dari dolar. Ada juga dimensi geopolitik: meningkatnya fragmentasi ekonomi global, sanksi keuangan, dan kekhawatiran atas stabilitas sistem moneter internasional mendorong permintaan emas sebagai aset non-sovereign.
Yang membedakan bull market ketiga ini dari dua sebelumnya adalah sifatnya yang tampak lebih structural daripada sekadar cyclical. Bull market 1970-an dipicu oleh perubahan sistem moneter. Bull market 2000-an didorong oleh siklus komoditas. Yang sekarang tampaknya didorong oleh pergeseran tatanan geopolitik dan keuangan global yang lebih dalam — sesuatu yang tidak selesai dalam satu atau dua tahun.
Tentu saja, tidak ada bull market yang berjalan lurus. Koreksi di tengah siklus adalah normal — bahkan di bull market 1970-an dan 2000-an pun ada pullback tajam sebelum melanjutkan kenaikan. Tapi selama faktor-faktor struktural di atas belum berubah arah, setiap koreksi harga emas kemungkinan besar akan tetap dilihat sebagai kesempatan oleh pelaku pasar jangka panjang.