LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

EXCL: Rally 6% Pasca Earnings, Tapi Fundamentalnya?

XLSMART (EXCL) naik 6% pasca rilis laba 2Q26, tapi wireless revenue turun, ARPU melemah, dan capex melonjak ke IDR 20 triliun. Apa yang sebenarnya terjadi?


Saham EXCL melompat 6% sehari setelah rilis hasil 2Q26 — jauh melampaui JCI yang hanya naik 1.7% di hari yang sama. Reaksi pasar ini cukup menarik, karena kalau dilihat lebih dalam, angka-angka yang keluar tidak sepenuhnya cerita positif.

Headline revenue memang naik 3% qoq dan 7% di atas ekspektasi konsensus. Tapi lonjakan itu sebagian besar ditopang oleh layanan interkoneksi dan enterprise yang melonjak 85% yoy — sifatnya lebih ke one-off project delivery, bukan pertumbuhan organik yang berkelanjutan. Sementara itu, wireless revenue — segmen inti bisnis EXCL — justru turun 0.5% qoq. ARPU ikut tergerus ~1% qoq.

Bandingkan dengan kompetitor: Telkomsel dan Indosat mencatatkan pertumbuhan wireless revenue antara +1% hingga +3% qoq di periode yang sama, dengan ARPU Indosat tumbuh +2% qoq. Artinya EXCL sedang kehilangan momentum di segmen yang paling penting, tepat di saat industri sedang tumbuh.

Di sisi fixed broadband, ada satu sinyal positif: net adds pelanggan FBB kembali masuk zona positif untuk pertama kalinya sejak 4Q24. Tapi satu kuartal belum cukup untuk menyebut ini sebagai pembalikan tren.

Yang lebih besar implikasinya adalah keputusan menaikkan panduan capex dari IDR 15 triliun menjadi IDR 20 triliun untuk FY26 — untuk utilisasi spektrum 700MHz dan 2.6GHz dalam rangka peluncuran 5G. Angka ini hampir dua kali lipat capex incremental 5G Indosat (IDR 10 triliun), dan jauh lebih agresif dari Telkomsel yang tidak mengubah panduan capex-nya sama sekali. Konsekuensinya langsung: free cash flow diprediksi tetap negatif, dan tidak ada dividen yang akan dibagikan di FY26E maupun FY27E.

Ada satu potensi upside yang perlu diperhitungkan: pengembalian spektrum 900MHz ke pemerintah pada akhir 2026 diperkirakan menghemat sekitar IDR 1.1 triliun per tahun mulai 2027. Ini yang mendorong revisi EBITDA 2027–2028E naik ~5%, dari IDR 20,583 miliar menjadi IDR 21,640 miliar. Tapi penghematan itu sebagian besar tertelan oleh beban D&A dan bunga yang tinggi — net income hanya direvisi naik 0–2%.

Pada harga Rp2,560, saham ini diperdagangkan dengan premium yang cukup signifikan terhadap target price Rp1,700 untuk Juni 2027. Selisihnya sekitar 34% downside dari harga saat ini — bukan angka yang kecil untuk sebuah saham tanpa dividen dan dengan FCF negatif dalam jangka menengah.

EBITDA margin FY26E diproyeksikan di kisaran ~45%, berada di batas bawah panduan manajemen. Sementara kompetitor sedang menikmati momentum pertumbuhan ARPU, EXCL masih dalam fase reinvestasi berat yang menekan profitabilitas jangka pendek. Pasar mungkin terlalu cepat merayakan angka revenue yang di atas ekspektasi, tanpa cukup mencerna dari mana datangnya angka tersebut.