LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Fed On Hold, Tapi ECB & BoJ Masih Hike?

Juli 2026 memberikan dua data yang cukup mengejutkan pasar: US non-farm payrolls turun 23.000 — kontraksi, bukan sekadar melambat — sementara core CPI turun ke 2.5% y/y, level terendah sejak 2021. Kombinasi ini secara efektif menutup pintu bagi Fed untuk hike lagi dalam waktu dekat. Market-implied probability hike di September langsung rontok ke bawah 40% setelah dua rilis data ini keluar berurutan.

Base case-nya cukup jelas: Fed funds rate tetap di 3.50–3.75% sampai akhir tahun. Bukan karena inflasi sudah menang, tapi karena arah perjalanannya sudah cukup meyakinkan. Kenaikan inflasi di Q2 kemungkinan besar merupakan temporary surge yang didorong oil prices, bukan broad-based inflation risk. Dengan payrolls yang mulai kehilangan momentum — dan revisi ke bawah untuk data Mei dan Juni — tekanan untuk tighten semakin berkurang.

Yang menarik justru ada di luar AS. ECB menghadapi trade-off yang jauh lebih sulit: European natural gas prices masih bertahan di level tinggi sejak konflik Timur Tengah pecah, dan ini memberi tekanan ke headline inflation serta inflation expectations. Sebagai central bank yang sangat fokus pada inflation targeting, ECB kemungkinan besar akan hike satu kali lagi sebelum year-end, meski growth regional masih fragile. Sementara BoJ juga belum selesai — yen masih tertekan oleh negative real yields dan interest rate differential yang lebar dengan AS, dan satu kali rate hike lagi tampaknya akan datang untuk memperkuat intervensi yang sudah dilakukan.

Di sisi geopolitik, konflik Timur Tengah masuk ke fase stalemate yang berkepanjangan. Iran masih bersikeras soal kontrol Selat Hormuz, AS mengklaim "total control" atas jalur tersebut. Energy prices tetap volatile, tapi oil kembali ke level Maret–April rasanya sudah tidak realistis — yang artinya tekanan inflasi dari sisi energi setidaknya tidak akan memburuk drastis.

Untuk equities, earnings tetap jadi penopang utama. Yang lebih menarik adalah broadening of market leadership — tidak lagi hanya bergantung pada mega-cap tech. Dua tema yang layak diperhatikan:

  • Global Power & Electrification — AI dan data centre mendorong lonjakan permintaan listrik yang nyata. Backlog order dari supplier power equipment tumbuh 32% q/q. Delivery slot turbin sudah stretch bertahun-tahun ke depan. Energy storage mulai berkontribusi, dengan leading battery maker kembali profit setelah tujuh kuartal merugi berkat shift ke AI backup power.
  • China Tech / HSTECH — Valuasi masih diskon signifikan (forward P/E sekitar 14.8x vs rata-rata historis 20x lebih). IPO tech China yang disambut antusias pasar mengindikasikan re-rating struktural di sekitar tema AI. Ekspansi HSTECH dari 30 ke 50 konstituen akan membuat indeks lebih forward-looking dan menangkap early gains dari high-growth companies.

Untuk fixed income, US High Yield tetap menarik dari perspektif yield absolut — saat ini di sekitar 7.26%, berada di percentile ke-69 dalam 15 tahun terakhir. Spread memang sudah tight (sekitar 266bps, percentile ke-4), tapi default rate masih di bawah long-term average di level 2%, didukung oleh komposisi BB-rated credit yang mendekati 60% dari indeks. Maturity wall sudah di-push ke 2028–29 setelah refinancing besar-besaran di 2025 dan awal 2026. Return ke depan kemungkinan lebih didorong income daripada spread compression lebih lanjut.

Satu data point yang menarik: China exports Juli tumbuh 23.9% y/y, jauh di atas ekspektasi. Tapi di sisi domestik, CPI hanya naik 0.5% y/y dan PPI 3.5% y/y — keduanya di bawah estimasi — yang mencerminkan domestic demand yang masih lemah. PBoC masih dalam mode accommodative. Ini menciptakan divergensi yang unik: China kuat di sisi eksternal, tapi masih perlu stimulus dari dalam.