Segmen fintech GOTO kini menjadi mesin pertumbuhan utama dengan EBITDA CAGR >70% hingga 2028. Apa artinya bagi investor saham GOTO?
Ada pergeseran narasi yang cukup signifikan di GOTO. Kalau selama ini investor lebih banyak membicarakan segmen on-demand services — ojek, pengiriman, food delivery — kini fintech mulai mengambil alih peran sebagai primary growth driver. Dan angkanya bukan main-main.
Segmen GoTo Financial diproyeksikan tumbuh dengan adjusted EBITDA CAGR lebih dari 70% antara 2025 hingga 2028, dan pada 2028 segmen ini diperkirakan berkontribusi lebih dari separuh total adjusted EBITDA grup. Ini bukan sekadar segmen pendukung lagi — ini sudah menjadi inti bisnis.
Katalis terdekatnya sudah terjadi: payments berhasil mencapai breakeven adjusted EBITDA di 2Q26, sementara core GTV fintech tumbuh 91% YoY di kuartal yang sama. Pertumbuhan ini diakselerasi oleh layanan pembayaran yang skalanya terus membesar. Return on assets pinjaman GTF berada di kisaran ~10%, angka yang solid untuk segmen lending di ekosistem digital.
Di sisi lain, segmen mobility sedang menghadapi tekanan struktural. Sejak 1 Juli 2026, struktur komisi motor (2W) direset ke 8% — kebijakan yang langsung menghantam margin. Dampaknya diperkirakan sekitar IDR 300 miliar terhadap adjusted EBITDA di 2H26, dan proyeksi EBITDA mobility untuk 2026–2027 direvisi turun cukup dalam, antara 22% hingga 47%. GTV mobility juga dikoreksi 4–7%.
Ada satu variabel lagi yang perlu dipantau: rancangan regulasi ride-hailing yang dijadwalkan terbit 17 Agustus. Regulasi ini mengecualikan kendaraan roda empat, tapi berpotensi menyentuh segmen deliveries. Seberapa besar dampaknya masih bergantung pada detail akhir beleid tersebut.
Meski begitu, koreksi di segmen mobility tidak cukup untuk membalik gambaran besar. Proyeksi adjusted EBITDA grup untuk 2026–2028 justru dinaikkan 5–9%. FY26E adjusted EBITDA kini diestimasi di IDR 3,6 triliun, sekitar 9% di atas titik tengah guidance perusahaan. GMV grup untuk FY26 diproyeksikan menembus IDR 1.076 triliun, naik signifikan dari IDR 685 triliun di 2025.
Dari sisi valuasi, GOTO saat ini diperdagangkan di Rp50 — tepat di exchange floor level. Target price berbasis SOTP ditetapkan di Rp68 untuk Juni 2027, menyiratkan upside sekitar 36% dari harga saat ini. Multiple ODS memang diturunkan dari 8x menjadi 7x untuk mencerminkan tekanan di segmen mobility, tapi kenaikan valuasi fintech lebih dari mengkompensasi penurunan tersebut.
Program buyback senilai US$200 juta juga menjadi faktor yang meredam downside, sekaligus sinyal bahwa manajemen menilai valuasi saat ini terlalu murah.
Intinya: GOTO sedang dalam proses transformasi dari perusahaan yang didominasi ride-hailing menjadi fintech company dengan ekosistem on-demand sebagai pendukung. Transisi ini tidak mulus — ada gesekan di mobility — tapi trajectory jangka menengahnya semakin jelas ke arah profitabilitas yang lebih sustainable.