Kalau melihat pergerakan JCI sepanjang tahun ini — turun sekitar 24% YTD bahkan setelah rebound di Juli — wajar kalau investor mulai mempertanyakan apakah market sudah terlalu pesimis. Menariknya, data hasil 1H26 justru menunjukkan gambaran yang lebih nuanced: fundamentals ternyata lebih resilient dari yang diimplikasikan oleh underperformance pasar.
Dari 61 perusahaan yang sudah melaporkan hasil 1H26, sekitar separuhnya mencatatkan earnings growth reacceleration dibanding FY25. Beat-to-miss ratio juga membaik — 31% perusahaan beat di 2Q26 vs. hanya 24% di 1Q26, sementara yang miss turun dari 39% ke 31%. Tren yang positif, meski belum cukup untuk mendorong re-rating pasar secara broad.
Revenue growth acceleration di 1H26 terlihat di beberapa sektor: Automotive, Building Materials, Poultry, Telco, Mining, dan Oil & Gas. Sebagian besar ini didorong kombinasi low base effect, frontloaded fiscal spending di 4Q25–1Q26, dan kenaikan harga komoditas global. Sebaliknya, Consumer Staples, Consumer Discretionary, Internet, dan Entertainment justru mengalami deceleration — sektor-sektor yang lebih exposed ke daya beli domestik yang sedang tertekan.
Dari sisi earnings growth inflection, nama-nama yang paling menonjol di 1H26 antara lain GGRM, INDY, INCO, DMAS, HMSP, ISAT, WIIM, ACES, HRUM, MYOR, dan CPIN. Sementara 18 dari 61 perusahaan masih membukukan negative earnings growth — mayoritas dari sektor Property dan Consumer Staples yang terdampak FX losses akibat pelemahan rupiah.
Soal potential earnings upgrade, nama-nama yang menarik perhatian adalah BEST, DMAS, ISAT, GGRM, CPIN, ACES, SILO, HMSP, dan AKRA. Di sisi berlawanan, UNTR, BSDE, SIDO, dan HEAL berisiko mengalami consensus downgrade.
Untuk 2H26, tantangannya jelas: IDR yang masih lemah, interest rates yang elevated, dan input cost inflation dari harga minyak dunia yang tinggi. Cost of equity yang naik membuat valuation re-rating jadi jauh lebih selektif — hanya nama-nama dengan earnings momentum yang benar-benar solid yang bisa justify premium.
Dalam kondisi seperti ini, logika investasinya cukup straightforward: favor sektor dengan USD revenues. Mining dan Oil & Gas secara natural terlindungi dari pelemahan rupiah, bahkan diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global. Di luar itu, ada beberapa nama yang bisa memanfaatkan program fiskal pro-konsumsi pemerintah.
Beberapa highlight sektor yang perlu dicermati:
- Telco — ISAT dan TLKM membukukan hasil solid di 1H26 dengan ARPU improvement yang berlanjut. Competitive landscape yang lebih favorable dan penambahan kapasitas spektrum jadi katalis positif ke depan.
- Tembakau — GGRM dan HMSP mulai menunjukkan recovery dengan tidak adanya kenaikan cukai di 2026. WIIM juga menarik karena volume SKM yang kuat di 1H26.
- Coal & Metal Mining — Harga nikel di kisaran USD17k/ton dan harga batu bara yang tetap elevated di tengah tensi geopolitik jadi tailwind. INCO, AADI, dan ARCI masuk dalam kategori yang disukai.
- Semen & Property — Outlook tetap berat. Pelemahan IDR dan higher energy prices menekan margin semen, sementara property menghadapi tighter lending environment. INTP, SMGR, BSDE, dan CTRA masuk daftar yang berisiko downgrade.
- Healthcare — MIKA dan SILO relatif resilient, tapi HEAL mencatatkan earnings contraction -8% YoY di 2Q26. Risiko dari reimbursement BPJS yang tidak naik sementara biaya obat mulai merangkak jadi concern utama ke depan.
- GOTO — Mencetak net profit Rp252 miliar di 2Q26 untuk kuartal kedua berturut-turut. Adjusted EBITDA fintech tumbuh 447% YoY. Meski begitu, regulasi take-rate cap 8% membuat manajemen memilih guidance yang konservatif untuk full year.
Bottom line: pasar sedang price-in skenario yang cukup bearish untuk 2H26, tapi data earnings 1H26 menunjukkan bahwa tidak semua sektor sedang dalam tekanan. Selektivitas adalah kuncinya — dan dalam lingkungan seperti ini, USD earners dan nama-nama dengan pricing power yang kuat adalah tempat yang paling defensif sekaligus punya upside yang nyata.