Kinerja HRUM 2Q26 melonjak lebih dari 3x QoQ. Transformasi Harum Energy dari batu bara ke nikel kini berkontribusi 97% pendapatan konsolidasi.
Harum Energy (HRUM) punya cerita transformasi yang jarang terjadi di pasar modal Indonesia — sebuah emiten batu bara yang berhasil melakukan pivot ke bisnis nikel secara konsisten, dan kini mulai membuktikan hasilnya lewat angka.
Kinerja 2Q26 HRUM tercatat solid. Laba bersih mencapai sekitar US$27,6 juta, melonjak lebih dari 3x secara QoQ sekaligus tumbuh +14% YoY. Secara kumulatif, 1H26 NPAT mencapai US$36,5 juta, naik sekitar +23% YoY — earnings momentum yang cukup kuat mengingat tekanan harga nikel global yang masih berlangsung sepanjang tahun ini.
Yang lebih menarik adalah komposisi pendapatannya. Sepanjang 1H26, sekitar 97% pendapatan konsolidasi HRUM sudah berasal dari segmen nikel. Artinya, HRUM secara fundamental bukan lagi perusahaan batu bara yang kebetulan punya aset nikel — melainkan sudah sepenuhnya menjadi nickel play. Transisi ini bukan hal mudah, dan fakta bahwa revenue mix sudah bergeser sedrastis ini dalam waktu relatif singkat menunjukkan eksekusi manajemen yang cukup disiplin.
Lonjakan laba QoQ yang lebih dari 3x juga layak dicermati lebih dalam. Jika 1Q26 NPAT hanya sekitar US$8,9 juta, maka akselerasi di 2Q26 mengindikasikan adanya kombinasi antara volume produksi yang meningkat, efisiensi biaya di level operasional, atau keduanya. Ini bukan sekadar seasonal bounce — ada perbaikan struktural yang sedang berjalan.
Tentu ada konteks yang perlu diingat: harga nikel global masih dalam tekanan akibat oversupply dari Indonesia dan China, sehingga upside dari sisi harga komoditas belum banyak membantu. Artinya, pertumbuhan earnings HRUM saat ini lebih didorong oleh faktor internal — volume, efisiensi, dan skala bisnis — bukan windfall harga. Dalam jangka panjang, ini justru lebih sehat sebagai fondasi pertumbuhan.
Bagi investor yang mengikuti investment case HRUM sejak awal transformasi, angka 1H26 ini adalah konfirmasi bahwa narasi "from black to green" bukan sekadar rebranding, melainkan perubahan bisnis yang nyata dan terukur. Pertanyaan selanjutnya tentu ada di 2H26 — apakah momentum ini bisa dipertahankan, terutama jika harga nikel mulai recovery.