LIVE
BTC· ETH· BNB· SOL· XRP· ADA· DOGE· USD/IDR· EUR/USD· USD/JPY· USD/SGD·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

HRUM: Turnaround yang Pasar Belum Lihat

HRUM diperdagangkan di 6x P/E FY26 dengan potensi upside 47%. Laba bersih diproyeksikan loncat 169% tahun ini — tapi pasar belum banyak memperhatikan.


Harum Energy (HRUM) adalah salah satu saham yang saat ini diperdagangkan jauh di bawah nilai fundamentalnya — bukan karena bisnisnya buruk, tapi karena pasar sudah terlanjur skeptis setelah bertahun-tahun kecewa. Harga di kisaran Rp850 mencerminkan valuasi sekitar 6x P/E FY26, angka yang sulit dipertahankan jika proyeksi laba tahun ini benar-benar terealisasi.

Dan proyeksinya cukup agresif: net profit diperkirakan loncat dari US$37 juta di 2025 menjadi US$101 juta di 2026 — EPS growth 169% year-on-year. Revenue juga hampir dua kali lipat, dari US$1,34 miliar ke US$2,61 miliar. Kalau angka-angka ini terbukti, valuasi saat ini terlihat sangat murah, bahkan untuk standar sektor komoditas yang memang cyclical.

Pertanyaannya: kenapa pasar belum bergerak?

Jawabannya ada di history. HRUM menanggung beban sentimen negatif yang sudah menumpuk — keterlambatan tiga tahun dalam peningkatan produksi nikel, kenaikan biaya sulfur yang menekan margin RKEF, ditambah keterlambatan kuota RKAB di sisi batu bara. Investor institusi pun sudah banyak yang keluar. Kombinasi ini membuat harga saham stuck meski fundamental mulai membaik.

Tapi justru di situ letak opportunity-nya. Semua sentimen negatif itu sudah terdiskon dalam harga. Yang belum terdiskon adalah pemulihan yang sedang berjalan.

Di sisi batu bara, penjualan 1H26 baru sekitar 200 ribu ton dari kuota RKAB 3 juta ton. Artinya, bulk of the volume baru akan dieksekusi di 2H26 — dengan estimasi cash margin sekitar US$15 per ton. Ini bukan angka besar per unit, tapi volume yang signifikan jika kuota terpenuhi.

Di sisi nikel, penjualan bijih 1H26 sudah mencapai 2,6 juta ton, dengan target FY26 di kisaran 8–10 juta ton. Sekitar 80% komposisinya adalah saprolit, yang harga patokan mineralnya (HPM) justru sedang turun — positif bagi cost structure fasilitas RKEF yang menggunakan bijih sebagai bahan baku. Ditambah peningkatan produksi dari tambang PT Position yang mengurangi ketergantungan pada pasokan pihak ketiga, struktur biaya nikel berpotensi membaik secara signifikan di paruh kedua.

Laba bersih 2H26 sendiri diproyeksikan tumbuh 54% secara half-on-half. Jika ini terealisasi, full-year number akan jauh lebih solid dan bisa menjadi re-rating catalyst yang selama ini absen.

Ke depan, jika pemulihan laba berlanjut ke 2027, PER turun ke 3,8x dan EV/EBITDA ke 1,7x — level yang bahkan untuk saham batu bara sekalipun sudah sangat compressed. Target harga Rp1.250 mencerminkan upside sekitar 47% dari harga saat ini, dengan asumsi pasar mulai mengapresiasi normalisasi operasional yang sedang berjalan.

Risiko utama tetap ada: realisasi volume batu bara 2H26 yang bisa meleset jika ada hambatan RKAB lanjutan, serta volatilitas harga nikel global yang di luar kendali perseroan. Tapi untuk investor yang bisa mentoleransi ketidakpastian jangka pendek, HRUM menawarkan risk-reward yang asimetris — downside sudah banyak terdiskon, upside belum.