LIVE
USD/IDR· UST10Y· KURVA 10Y-2Y· EMAS· EMAS/gr· PERAK· TEMBAGA· EUR/USD· USD/JPY· USD/CNY· BTC· ETH·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

IHSG Rally 4.64% di Agustus, BYAN Dominasi

IHSG menguat 4.64% sepanjang 1–21 Agustus 2026 ke 6.525,69. BYAN jadi kontributor terbesar, sementara asing agresif borong DSSA dan BBRI.


Sepanjang tiga pekan pertama Agustus 2026, IHSG membukukan rally yang cukup solid — naik 4.64% dari 6.236,13 ke 6.525,69, setara 289,56 poin. Yang membuat penguatan ini lebih meyakinkan bukan hanya besaran persentasenya, tapi market breadth-nya: 529 saham naik berbanding hanya 218 yang turun. Ini bukan rally yang ditopang segelintir saham besar saja.

Meski begitu, satu nama mendominasi kontribusi index move secara tidak proporsional: BYAN. Saham batu bara milik Prajogo Pangestu ini menyumbang +58,585 poin, atau 20,23% dari total pergerakan indeks — hampir dua kali lipat kontributor kedua, BBRI (+27,886 poin). Ketika satu saham menggerakkan seperlima indeks, interpretasi "broad-based rally" perlu sedikit dikalibrasi. Penguatan memang lebar, tapi BYAN adalah engine utamanya.

Di luar BYAN, lineup positive mover cukup beragam: BRMS dan BUMI mewakili sektor komoditas, DSSA dan AMMN dari mining dan energi, DCII dari infrastruktur digital, hingga BBCA dan BBRI dari perbankan. VKTR dan EMAS juga masuk top 10, keduanya di sektor yang sedang dapat angin dari narasi transisi energi.

Di sisi sebaliknya, MORA menjadi negative mover terbesar dengan -18,496 poin (-6,39% dari index move), diikuti ASII yang tertekan -13,103 poin. ASII menarik untuk dicermati karena tekanannya tidak hanya terlihat di price action — asing juga net sell ASII sebesar Rp772,1 miliar di All Market, menjadikannya salah satu saham dengan foreign outflow terbesar bulan ini.

Berbicara soal foreign activity, angka yang paling mencolok adalah DSSA dengan foreign buy Rp2.740,9 miliar di All Market. Tapi konteksnya penting: Rp2.712,8 miliar di antaranya masuk lewat pasar Nego, bukan Regular Market. Transaksi nego biasanya bersifat bilateral dan tidak selalu mencerminkan buying pressure organik di pasar reguler. Jadi meski angkanya besar, implikasinya terhadap supply-demand di pasar reguler terbatas.

Di Regular Market, foreign flow lebih mencerminkan conviction sesungguhnya. BBRI memimpin dengan net buy Rp1.610,8 miliar, diikuti BBCA (Rp771 miliar), TINS (Rp732,8 miliar), dan ANTM (Rp529,3 miliar). Pola ini konsisten dengan rotasi ke saham-saham yang punya eksposur ke komoditas dan perbankan — dua sektor yang relatif diuntungkan dalam skenario risk-on.

Di sisi foreign sell Regular Market, TPIA paling besar dengan outflow Rp1.171,6 miliar, disusul BMRI (Rp767,8 miliar) dan ASII (Rp705,3 miliar). TLKM dan ISAT juga masuk daftar, mengindikasikan asing masih belum nyaman dengan sektor telekomunikasi domestik.

Secara keseluruhan, Agustus 2026 berjalan lebih baik dari yang mungkin diperkirakan di awal bulan. Tapi dengan BYAN menanggung beban kontribusi sebesar itu, keberlanjutan rally akan sangat bergantung pada apakah momentum di saham-saham mid-cap dan sektor lain bisa ikut terbawa — atau justru BYAN yang mulai kehilangan tenaga duluan.